Elsindo, Palu – PT TASPEN (Persero) Kantor Cabang Palu sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menyelenggarakan program jaminan sosial bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) meminta kepada seluruh peserta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan yang mengatasnamakan Taspen.
“Seiring dengan berkembangnya teknologi informasi dan maraknya penggunaan layanan digital, oknum tidak bertanggung jawab memanfaatkan celah ini untuk melakukan tindakan penipuan dengan menyasar peserta pensiun yang rentan dalam aktivitas digital,” ujar Branch Manager Taspen Cabang Palu, Rieska Destiana Indrajaya, dihubungi melalui pesan Whatsapp, Sabtu (27/9/2025).
Selain itu, pihaknya menerima sejumlah laporan dari peserta tentang penipuan melalui pesan instan, telepon, atau surat elektronik yang mengatasnamakan Taspen. Diungkapkan, modus penipuan yang teridentifikasi saat ini berpotensi besar mencuri data pribadi dan membobol rekening peserta.
“Kami memahami bahwa peserta, khususnya para pensiunan, sangat rentan terhadap praktik penipuan digital. Untuk itu, kami dari Taspen secara proaktif memperkuat sistem keamanan, mengembangkan layanan berbasis teknologi yang aman, dan mendorong edukasi digital sebagai bagian dari perlindungan menyeluruh terhadap hak-hak peserta,” katanya.
Seiring berkembangnya era digital, Rieska menjelaskan bahwa berbagai modus penipuan semakin marak termasuk yang mengatasnamakan PT Taspen (Persero). Bahkan, lanjut dia, penipu sering kali menghubungi peserta Taspen melalui pesan pribadi dengan menggunakan identitas perusahaan untuk meyakinkan korban dan meraup keuntungan secara ilegal
“Penting untuk diingat, seluruh layanan Taspen bersifat gratis dan tidak dikenakan biaya dalam pengurusan apa pun. Kami berkomitmen untuk melindungi data peserta dan tidak akan meminta informasi pribadi melalui media komunikasi daring seperti WhatsApp, apalagi hingga meminta Sobat untuk mentransfer dana ke rekening tertentu,” imbuhnya.
Diungkapkan, modus penipuan ini dapat dilakukan melalui berbagai saluran komunikasi, seperti surat, email, telepon, atau media komunikasi lainnya. Beberapa contohnya termasuk penyebaran informasi palsu terkait pencairan kenaikan gaji pensiun, bonus, permintaan data pribadi (seperti nomor TASPEN, nomor rekening, alamat), atau bahkan meminta pembayaran sejumlah uang untuk dana bantuan yang dijanjikan, pembagian deviden, dan tautan mencurigakan.
“Kami dari Taspen menegaskan bahwa tidak akan meminta data pribadi peserta, nomor rekening, alamat, dan Taspen tidak pernah meminta pembayaran dalam bentuk apapun untuk memperoleh manfaat atau bantuan,” tuturnya. (FA)















