Utama  

Kaper BKKBN Sulteng Harapkan Remaja Jadi Generasi Tangguh 100 Tahun Indonesia

Tenny C Soriton

ELSINDO, PALU- Kepala Perwakilan (Kaper) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sulawesi Tengah, Tenny C Soriton, mengharapkan para remaja saat ini bisa menjadi generasi tangguh.

“Anak-anak kita akan menjadi generasi penerus 100 tahun Indonesia merdeka pada 2045,” ucap Tenny saat menjadi narasumber kegiatan program kemitraan Komisi IX DPR RI dengan BKKBN lewat sosialisasi dan Komunikasi, Informasi dan Edukatif (KIE) Program Pembangunan Keluarga Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) di Palu, Kamis 29 September 2022.

Peserta kegiatan dari HMI, PMKRI, GMNI, PMII, KMHDI, IMM, GMKI, GAMKI, Pemuda Katolik, PERADAH, WKRI, ISKA,P2NTT Sulteng, dan berbagai organisasi pemuda di Kota Palu.

Diungkapkan Tenny, salah satu langkah untuk mewujudkan generasi tangguh yang berkualitas dengan menghindari pernikahan dini.

“Ada beberapa risiko pernikahan dini, salah satunya kematian ibu melahirkan karena reproduksi yang belum siap,” ungkapnya.

Risiko lainnya dari penikahan dini kata Tenny yaitu bayi yang dilahirkan berpotensi menderita stunting. Stunting merupakan gagal tumbuh atau kekerdilan yang dialami anak karena kurang asupan gizi.

“Untuk kasus stunting, Sulawesi Tengah berada di urutan ke-8 dari 34 Provinsi dan kita berada di bawah Kalimantan Barat,” ucap Tenny.

“Kita paling tinggi itu ada di Kabupaten Sigi dengan angka 30,7% dan yang terendah ada di Kota Palu dengan angka 23,7%. Jadi rata-rata anak-anak yang dilahirkan di Sulteng kalau kita bulatkan berarti 30/100 anak yang lahir,” tambahnya.

Menurut Tenny, stunting bisa dicegah dalam 1000 hari pertama kehidupan dengan pola asah, asih, dan asuh yang baik. Kemudian menghindari 4 T yaitu terlalu muda menikah, terlalu muda melahirkan, terlalu rapat dan terlalu banyak.

“Empat T termasuk penyebab utama tingginya angka kasus kematian ibu melahirkan,” beber mantan Kepala Perwakilan BKKBN Kalimantan Barat itu.

Tenny berharap para remaja agar menjadi pelopor dan generasi tangguh dengan tidak menikah dini. Idealnya, usia menikah bagi laki-laki minimal 25 tahun dan untuk perempuan 21 tahun.

Dalam usia tersebut seorang laki-laki dianggap sudah cakap untuk membina bahtera rumah tangga. Sementara perempuan sudah cukup matang untuk menggandung dan melahirkan keturunan.

BKKBN kata Tenny akan terus menyosialisasikan pencegahan nikah dini untuk menekan kasus stunting. Saat bersamaan akan bisa terus mengurangi kasus kematian ibu melahirkan di Sulawesi Tengah. (CHL)