Berita  

SMPN 14 Palu Berbenah, Dari Taman Terbuka Hijau hingga Target Rebut Kembali Adiwiyata Nasional

Plt Kepala SMPN 14 Palu, Bahrija, saat menunjukkan taman sekolah yang dibenah. (FOTO:FADEL)

ELSINDO, PALU– Wajah baru mulai tampak di SMP Negeri 14 Palu. Di bawah kepemimpinan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah, Bahrija, sekolah ini perlahan bertransformasi menjadi lingkungan belajar yang lebih terbuka, hijau, dan nyaman, meski masih dihadapkan pada tantangan infrastruktur yang cukup berat.

Bahrija mengungkapkan, perubahan yang dilakukan berawal dari pemanfaatan dana prestasi yang diterima sekolah. Dana tersebut difokuskan untuk membenahi lingkungan, terutama taman sekolah, sejalan dengan visi Wali Kota Palu terkait pengembangan ruang terbuka hijau.

“Dana prestasi itu kami gunakan untuk merombak taman. Saya konsepkan terbuka hijau, tidak ada lagi sekat-sekat yang menghalangi pandangan. Sekarang lebih luas, lebih nyaman dilihat, baik dari dalam maupun luar sekolah,” ujarnya.

Tak hanya memperluas taman, pihak sekolah juga membangun panggung terbuka dan menata area depan agar terlihat lebih representatif. Meski demikian, Bahrija mengakui hasilnya belum sepenuhnya maksimal karena tanaman yang ditanam masih dalam tahap pertumbuhan.

Di balik pembenahan lingkungan tersebut, SMPN 14 Palu masih menghadapi persoalan serius terkait kondisi bangunan. Sejumlah ruang kelas dan fasilitas sekolah masuk kategori rusak berat berdasarkan hasil asesmen.

“Kalau kategori rusak berat, sesuai aturan harus dirobohkan. Ini yang menjadi kendala, karena pemerintah pusat hanya bisa membantu pembangunan baru jika lahannya sudah kosong,” jelasnya.

Ia menambahkan, proses pengusulan pembongkaran bangunan saat ini berada di tingkat pemerintah daerah, mengingat aset sekolah merupakan kewenangan daerah. Jika proses tersebut rampung, peluang mendapatkan bantuan pembangunan dari pusat akan terbuka kembali.

Sementara itu, beberapa fasilitas yang masih layak telah mendapatkan bantuan rehabilitasi, di antaranya enam ruang kelas, ruang guru, toilet, dan laboratorium.

Di sisi lain, pembenahan lingkungan juga dibarengi dengan penguatan budaya bersih di kalangan siswa. Setiap hari, siswa dibiasakan memungut sampah sebelum pulang sekolah. Bahkan, pengelolaan sampah plastik menjadi salah satu sumber dana bagi kegiatan OSIS.

“Botol plastik dipilah dan dikumpulkan, nanti dijual dan hasilnya dikelola OSIS. Ini bagian dari edukasi lingkungan sekaligus melatih kemandirian siswa,” terang Bahrija.

Ia juga menerapkan kedisiplinan bagi siswa, termasuk memberi konsekuensi bagi yang terlambat dengan tugas membersihkan lingkungan sekolah. Upaya ini dinilai efektif dalam menanamkan kesadaran menjaga kebersihan sejak dini.

Ke depan, SMPN 14 Palu menargetkan untuk mengembalikan prestasi sebagai sekolah Adiwiyata hingga tingkat nasional. Berbagai inovasi lingkungan pun mulai dirancang, termasuk pengelolaan air limbah wudhu agar dapat dimanfaatkan kembali.

“Saya ingin mengembalikan kejayaan Adiwiyata. Kita pernah sampai tingkat nasional, dan itu ingin kita capai lagi dengan pembenahan yang bertahap,” pungkasnya.

Dengan semangat pembenahan yang terus digencarkan, SMPN 14 Palu optimistis mampu bangkit menjadi sekolah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berwawasan lingkungan. (**)