Podcast Perdana Unazlam Palu, Rendy Lamadjido Kupas Dampak Program “Berani Cerdas” bagi Pendidikan

Ketua Yayasan Unazlam Palu, Ir. Rendy M. Affandy Lamadjido, MBA, saat menjelaskan beberapa program Unazlam di Podcast perdana. (FOTO: IST)

ELSINDO, PALU – Universitas Abdul Azis Lamadjido (Unazlam) Palu menggelar podcast perdana dengan menghadirkan Ketua Yayasan, Ir. Rendy M. Affandy Lamadjido, MBA. Dalam perbincangan tersebut, berbagai isu strategis dibahas, khususnya terkait dampak pendidikan melalui program beasiswa “Berani Cerdas” di Sulawesi Tengah.

Dalam podcast itu, Rendy menegaskan bahwa pendidikan merupakan pilar utama dalam membangun bangsa yang maju dan berdaya saing. Hal tersebut, menurutnya, sejalan dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 serta Undang-Undang Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

“Konstitusi kita sudah sangat jelas menempatkan pendidikan sebagai prioritas. Bahkan anggaran pendidikan dialokasikan minimal 20 persen. Ini menunjukkan bahwa pendidikan adalah sektor strategis bagi kemajuan bangsa,” ujarnya.

Ia juga mencontohkan Jepang sebagai negara yang mampu bangkit dari kehancuran pasca Perang Dunia II berkat kekuatan sektor pendidikan. Menurutnya, tidak ada satu pun negara yang dapat berkembang tanpa ditopang sistem pendidikan yang kuat.

Dalam konteks daerah, Rendy menyebut program “Berani Cerdas” yang diinisiasi pemerintah provinsi sebagai langkah strategis untuk memperluas akses pendidikan tinggi, khususnya bagi masyarakat kurang mampu.

“Program ini seperti gayung bersambut dengan apa yang selama ini kami lakukan. Sejak awal, yayasan sudah memberikan beasiswa kepada hampir 100 mahasiswa setiap tahun. Bahkan sekitar 90 persen mahasiswa di kampus kami adalah penerima beasiswa,” jelasnya.

Namun demikian, ia mengakui tantangan terbesar saat ini bukan pada ketersediaan program, melainkan pada aspek sosialisasi. Masih banyak masyarakat di wilayah pedesaan yang belum memahami mekanisme untuk mengakses beasiswa tersebut.

“Persoalannya sekarang adalah bagaimana informasi ini bisa sampai ke masyarakat bawah. Kami turun langsung ke desa-desa, membantu membuka akun, mendampingi pendaftaran, hingga memastikan mereka bisa melanjutkan pendidikan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Unazlam terus mengembangkan program studi yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Saat ini, kampus tersebut memiliki tujuh fakultas dengan sejumlah program unggulan berbasis kebutuhan riil di lapangan.

Salah satunya adalah program studi Biologi Terapan yang difokuskan pada penanganan dampak lingkungan. Rendy menilai, daerah seperti Morowali dan Morowali Utara membutuhkan tenaga ahli yang mampu melakukan rehabilitasi lingkungan secara berkelanjutan.

“Kami ingin mencetak sarjana yang tidak hanya paham teori, tetapi juga mampu terjun langsung menangani persoalan lingkungan. Ini adalah kebutuhan nyata di daerah kita,” tegasnya.

Selain itu, Unazlam juga menghadirkan Fakultas Hukum berbasis bisnis (entrepreneurship), yang dirancang untuk mencetak lulusan hukum yang memahami dunia usaha dan industri.

“Ke depan, perusahaan membutuhkan tenaga hukum yang tidak hanya paham regulasi, tetapi juga memahami praktik bisnis. Ini yang kami siapkan,” katanya.

Sementara itu, Fakultas Pertanian dikembangkan dengan pendekatan praktik langsung di lapangan. Mahasiswa akan dilatih di kawasan perkebunan agar memiliki kesiapan kerja setelah lulus.

“Target kami, lulusan tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga siap kerja dan mampu bersaing, termasuk dalam mendukung pembangunan nasional,” tambahnya.

Rendy berharap, melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah, persoalan akses pendidikan dapat dituntaskan. Ia ingin memastikan tidak ada lagi anak-anak di Sulawesi Tengah yang terhambat mengenyam pendidikan tinggi karena faktor ekonomi.

“Kalau pendidikan sudah terbuka, maka derajat masyarakat akan terangkat. Ini bukan hanya soal individu, tetapi masa depan daerah dan bangsa,” pungkasnya. (**)