Per 30 April 2026, Sebanyak 173.714 Warga Sulteng Terlayani Program Berani Sehat

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, Fatma A. Deu, SKM., M.Si. (FOTO: FADEL)

ELSINDO, PALU – Program Berani Sehat yang digagas Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah terus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Hingga 30 April 2026, sebanyak 173.714 jiwa telah mendapatkan jaminan layanan kesehatan melalui program tersebut.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, Fatma A. Deu, SKM., M.Si, mengatakan Program Berani Sehat hadir untuk menjamin masyarakat yang belum memiliki jaminan kesehatan atau memiliki kepesertaan BPJS Kesehatan namun dalam kondisi nonaktif.

“Program ini diperuntukkan bagi masyarakat yang tidak memiliki jaminan kesehatan atau memiliki jaminan tetapi tidak aktif, baik peserta PBI maupun mandiri. Ketika masyarakat sakit dan membutuhkan pelayanan kesehatan, cukup datang ke puskesmas atau rumah sakit, maka kepesertaannya bisa langsung diaktifkan,” ujar Fatma.

Menurutnya, jumlah peserta yang telah didaftarkan melalui Program Berani Sehat terus meningkat setiap bulan seiring tingginya antusiasme masyarakat.

“Per 30 April 2026, jumlah peserta yang sudah ditanggung melalui Berani Sehat mencapai 173.714 jiwa dan tersebar di 13 kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah,” ungkapnya.

Fatma menjelaskan, proses pengaktifan kepesertaan kini semakin cepat berkat sistem digital bernama Sehati Pak. Sistem ini mengintegrasikan data dari Dinas Sosial, BPJS Kesehatan, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, serta fasilitas kesehatan.

“Ketika pasien datang ke puskesmas atau rumah sakit, operator cukup menginput data melalui Sehati Pak. Verifikasi dilakukan secara otomatis dalam sistem, sehingga proses pengaktifan bisa dilakukan dengan cepat,” jelasnya.

Ia menambahkan, kendala teknis di lapangan kini semakin berkurang dan sebagian besar persoalan dapat segera diatasi.

Rumah Sakit Penuh, Tanda Masyarakat Semakin Percaya

Fatma menilai tingginya kunjungan ke fasilitas kesehatan menunjukkan masyarakat kini tidak lagi menunda berobat karena alasan biaya.

“Sekarang rumah sakit hampir selalu penuh. Ini menunjukkan masyarakat memanfaatkan fasilitas kesehatan karena tidak lagi khawatir soal biaya pengobatan,” katanya.

Banyak masyarakat, lanjut Fatma, sebelumnya tidak rutin membayar iuran BPJS mandiri karena keterbatasan ekonomi. Akibatnya, saat sakit mereka harus membayar secara tunai. Melalui Program Berani Sehat, peserta dapat langsung diaktifkan selama bersedia dirawat di kelas III.

Meski demikian, Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah ke atas untuk tetap menjadi peserta mandiri dan membayar iuran secara rutin.

“Kami berharap masyarakat yang mampu secara ekonomi tetap membayar premi sendiri. Dengan begitu, Program Berani Sehat benar-benar diperuntukkan bagi warga yang sangat membutuhkan,” tegas Fatma.

Fatma juga mengingatkan masyarakat agar memanfaatkan layanan kesehatan secara berjenjang. Untuk penyakit yang tidak bersifat darurat, warga sebaiknya terlebih dahulu berobat ke puskesmas.

“Tidak semua penyakit harus dirujuk ke rumah sakit. Puskesmas dapat menangani banyak jenis penyakit. Rumah sakit diperuntukkan bagi kasus yang memerlukan penanganan dokter spesialis atau subspesialis,” ujarnya.

Menurut Fatma, keberhasilan Program Berani Sehat sangat bergantung pada status Universal Health Coverage (UHC) Prioritas yang saat ini disandang Sulawesi Tengah.

Dengan status tersebut, peserta nonaktif dapat langsung diaktifkan pada hari yang sama ketika membutuhkan pelayanan kesehatan. Jika status UHC Prioritas hilang, maka proses aktivasi baru berlaku pada bulan berikutnya.

“Karena itu, status UHC Prioritas harus terus dipertahankan. Peran pemerintah kabupaten dan kota sangat penting untuk memastikan alokasi anggaran tetap tersedia,” pungkasnya. (del)