ELSINDO, AMPANA — Pimpinan Daerah Persaudaraan Muslimah (PD Salimah) Kabupaten Tojo Unauna (Touna), Sulawesi Tengah, menggelar taklim rutin bertema “Membangun Ketahanan Keluarga di Era Digital” di Kota Ampana, Sabtu (7/11/2026). Kegiatan ini mengangkat pentingnya komunikasi, pendampingan penggunaan teknologi, dan penguatan nilai agama dalam keluarga.
Ketua PD Salimah Touna, Hijrah Hardi, S.Si., M.M., menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap materi yang disampaikan menjadi bekal bagi peserta dalam membangun keluarga yang kokoh, harmonis, serta berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Hijrah juga menyampaikan terima kasih kepada pemateri dan peserta yang hadir. Kegiatan tersebut sejalan dengan semangat Salimah untuk peduli terhadap perempuan, anak, dan keluarga Indonesia.
Taklim menghadirkan Hj. Wiwik Jumatul Rofi’ah, S.Ag., M.H., sebagai pemateri. Sosok yang akrab disapa Bunda Wiwik itu merupakan guru, daiyah, serta penggiat parenting dan ketahanan keluarga. Ia juga menjabat Ketua Fraksi PKS DPRD Sulawesi Tengah dan Sekretaris Komisi IV yang membidangi pendidikan, kesejahteraan rakyat, serta perlindungan perempuan dan anak.
Dalam materi paparannya, Bunda Wiwik menempatkan keluarga sebagai fondasi pembentukan karakter dan kualitas generasi. Keluarga menjadi tempat pertama anak belajar tentang kasih sayang, tanggung jawab, kejujuran, kedisiplinan, dan nilai agama.
Namun, perkembangan teknologi menghadirkan tantangan bagi hubungan antaranggota keluarga. Kemudahan berkomunikasi melalui perangkat digital belum tentu diikuti kedekatan emosional di dalam rumah.
“Jangan sampai rumah kita memiliki jaringan internet yang kuat, tetapi hubungan antaranggota keluarga justru semakin lemah,” demikian pesan Bunda Wiwik dalam materi presentasinya.
Ia menjelaskan, ketahanan keluarga bukan berarti sebuah keluarga tidak pernah menghadapi persoalan. Ketahanan justru terlihat dari kemampuan anggota keluarga untuk mengelola sumber daya, menyelesaikan masalah, saling mendukung, dan bangkit bersama ketika menghadapi kesulitan.
Materi tersebut menyoroti sejumlah tantangan, mulai dari berkurangnya komunikasi yang mendalam, ketergantungan terhadap gawai, paparan konten negatif, hingga kesenjangan pemahaman teknologi antara orang tua dan anak.
Untuk menghadapi kondisi itu, Bunda Wiwik mendorong orang tua menyediakan waktu khusus setiap hari untuk berbicara dengan anak tanpa gangguan telepon genggam. Komunikasi dibangun dengan mendengarkan sebelum menasihati, memahami sebelum menghakimi, serta mengedepankan dialog dan musyawarah.
“Pendampingan digital juga menjadi perhatian. Orang tua perlu menyusun kesepakatan penggunaan gawai bersama anak, menentukan waktu dan tempat bebas gawai, serta mendampingi anak saat mengakses internet,”katanya.
Langkah tersebut perlu disertai penggunaan pengaturan keamanan sesuai usia, pendidikan tentang perlindungan data pribadi, dan keterbukaan agar anak berani bercerita ketika menemukan konten yang tidak pantas.
Keteladanan orang tua menjadi bagian penting dari upaya itu. Pembatasan penggunaan gawai pada anak perlu diikuti kebiasaan orang tua dalam mengelola waktu layar dan bersikap santun di ruang digital, termasuk tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.
Selain literasi digital, paparan Bunda Wiwik menekankan penguatan ibadah dan akhlak, kemandirian ekonomi keluarga, dukungan lingkungan sosial, serta komunikasi lintas generasi. Ketahanan keluarga membutuhkan keterlibatan ayah, ibu, dan anak, dengan dukungan masyarakat, lembaga pendidikan, serta pemerintah.
“Melalui Gerakan Pengarusutamaan Keluarga (PUK), kepentingan keluarga didorong menjadi pertimbangan dalam kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan. Organisasi masyarakat seperti Salimah dapat mengambil peran melalui edukasi keluarga, pengembangan komunitas pengasuhan, kampanye literasi digital, serta kerja sama dengan sekolah dan majelis taklim”tandasnya.
Pesan utama materi tersebut adalah menyiapkan generasi yang mampu memanfaatkan teknologi sekaligus menjaga karakter, adab, dan keimanan. Penguatan keluarga diharapkan dimulai dari kebiasaan sehari-hari: menyediakan waktu bersama, membangun komunikasi terbuka, menguatkan ibadah, dan menggunakan teknologi secara bijak.(**)













