ELSINDO, PALU- Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah, Yudiawati Vidiana mengungkapkan, evaluasi Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) di jenjang SMA dan SMK, baka tetap dilakukan.
“Saat ini pihak Dinas Kesehatan Provinsi Sulteng, sedang menyiapkan rapid antigen, sebagai persiapan pengambilan sampel kepada beberapa siswa dan guru di sekolah. Yang jelas kami tinggal menunggu kesiapan Dinkes jika sudah siap, maka kami jalan sama-sama untuk mengambil sampel tersebut,” kata Yudiawati, melalui ponselnya, belum lama ini.
Menurut Yudiawati, PTM terbatas memiliki panduan yang dikeluarkan oleh Kemendikbud dan SKB empat menteri, dan itu tergantung dari level masing-masing. Khusus di Kota Palu berada di level dua atau satu, aturannya itu semua pembelajaran 50 persen.
“Misalnya ada kelas secara berjenjang yang dimulai dari kelas X dan XI, kemudian kapasitas peserta didik masuk perkelas itu terbatas maksimal 18 orang. Sementara untuk jenjang SLB, PTMT masih berproses pelaksanaannya dan maksimal dalam satu kelas lima orang saja,” ungkapnya.
Selain itu kata Yudiawati, tentunya protokol kesehatan yang harus diutamakan, kemudian keselamatan serta psikososial, baik peserta didik dan tenaga pendidik serta kependidikan. Selain itu yang paling penting izin dari orang tua.
“Apabila ada peserta didik yang tidak diizinkan orang tuanya, maka sekolah harus bertanggungjawab kepada peserta didik yang tidak diizinkan orang tuanya. Jadi tetap melakukan proses pembelajaran secara jarak jauh,” ujarnya.
“Kemudian sampai dengan hari ini (kemarin), saya belum pernah mendapat informasi dari Kepala Cabang Dinas, maupun kepala sekolah ada siswa maupun gurunya yang terkonfirmasi positif Covid-19. Kami justru mendapat informasi orang tua murid begitu antusias menyambut dibukanya PTMT di sekolah, bahkan orang tua berharap tatap muka di sekolah bisa berjalan seterusnya,” jelasnya.
Yudiawati juga mengaku, sesuai hasil pantauan dirinya sendiri, ternyata sekolah sudah menjalankan prokes dengan baik. Walaupun masih ada siswa berkerumun dan tidak menggunakan masker, tetapi itu adanya hanya di sekolah yang sangat sedikit siswanya dibanding sekolah lainya di p erkotaan. (MAD)















