Angka Stunting Naik, Abd Rifai: Jangan Seperti Pemadam Kebakaran

Abd Rifai
Abd Rifai Arif

ELSINDO, SIGI– Anggota DPRD Kabupaten Sigi, Abd Rifai Arif, mengkritik pola penanganan stunting yang dinilainya masih reaktif dan belum menyentuh akar persoalan secara menyeluruh.

“Stunting tak bisa dipisahkan dari kemiskinan. Tapi penanganannya masih sporadis, seperti pemadam kebakaran baru bergerak saat kasus melonjak,” kata Rifai, Senin, 7 Juli 2025.

Ia menekankan pentingnya pendekatan terpadu sejak dini, terutama bagi pasangan muda yang menikah sebelum matang secara ekonomi. Menurutnya, banyak kasus stunting berawal dari pernikahan dini dan pola asuh yang kurang optimal.

Menanggapi pernyataan Wakil Bupati Sigi soal efisiensi anggaran yang berdampak pada pengurangan program, Rifai menyatakan bahwa penanganan stunting tidak hanya soal uang, tapi juga edukasi dan pendekatan budaya.

“Harus ada intervensi sejak remaja, termasuk dari lembaga keagamaan seperti Kemenag. Jangan tunggu anak lahir baru bertindak,” tegas politisi PKS itu.

Rifai juga menyoroti pentingnya kerja lintas sektor untuk mengatasi stunting dan kemiskinan secara bersama-sama.

Sebagai informasi, angka stunting di Sigi tahun 2024 naik signifikan dari 26,4% menjadi 33%. Sigi pun masuk lima besar daerah dengan kenaikan prevalensi stunting di Sulawesi Tengah, bersama Buol, Banggai Kepulauan, Banggai Laut, dan Kota Palu.

Sementara itu, tingkat kemiskinan di Sigi per September 2024 tercatat 11,03% atau sekitar 29.800 jiwa dari total 270 ribu penduduk. Data ini memperkuat korelasi antara stunting dan kemiskinan yang masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah.(**)