Berita  

Dispusaka Sulteng Dorong Pengarsipan Kreatif, Seniman Gagas Etalase Literasi Kebencanaan

ELSINDO, PALU- Upaya memperkuat pengarsipan sejarah dan kebudayaan Sulawesi Tengah terus mendapat warna baru. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusaka) Provinsi Sulawesi Tengah menerima kunjungan komunitas seniman lokal, Selasa (21/7/2026), yang membawa sebuah karya unik hasil Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK).

Rombongan seniman disambut langsung Sekretaris Dispusaka Provinsi Sulawesi Tengah, Muh. Idham Khalid, S.Sos., M.A.P., di ruang kerjanya.

Dalam audiensi tersebut, para seniman menyerahkan sebuah buku yang tidak sekadar menjadi karya seni, tetapi juga menjadi medium untuk merekam sejarah dan kebudayaan daerah melalui pendekatan visual.

Buku tersebut memuat dokumentasi arsip yang dipadukan dengan sketsa artistik. Seluruh ilustrasi dibuat secara manual menggunakan kombinasi tinta Cina dan teknik soundscape atau lukisan bunyi, sehingga melahirkan karakter visual yang khas dan sarat makna.

Menurut Muh. Idham Khalid, karya tersebut memiliki nilai penting karena menghadirkan pendekatan baru dalam menjaga rekam jejak kebudayaan Sulawesi Tengah.

“Buku karya para seniman ini bukan sekadar karya seni biasa, melainkan bentuk pengarsipan kreatif yang sangat bernilai bagi rekam jejak kebudayaan dan sejarah daerah kita,” ujarnya.

Pertemuan tersebut sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara komunitas seniman dan Dispusaka Sulteng. Salah satu gagasan yang mengemuka adalah menghadirkan Etalase Literasi Kebencanaan, sebuah ruang khusus yang mengemas sejarah dan pengalaman kebencanaan melalui karya seni.

Etalase tersebut nantinya dapat menampilkan berbagai karya bertema kebencanaan, mulai dari dokumentasi foto, visual arsip, hingga buku sketsa yang memiliki nilai sejarah.

Konsep yang ditawarkan bahkan tidak berhenti pada satu karya. Dokumentasi tersebut direncanakan hadir secara berkala dalam beberapa jilid, mulai dari Volume 1, Volume 2, dan seterusnya, sehingga dapat menjadi rangkaian arsip visual yang merekam perjalanan sejarah kebencanaan di Sulawesi Tengah.

Gagasan ini dinilai menjadi langkah menarik untuk memperluas perspektif pengarsipan. Arsip tidak lagi hanya dipahami sebatas foto, video, atau dokumen tertulis, tetapi juga dapat hadir melalui bahasa seni, sketsa, dan ekspresi budaya.

Dengan pendekatan tersebut, pengalaman dan sejarah kebencanaan di Sulawesi Tengah diharapkan tidak hanya tersimpan sebagai dokumen, tetapi juga dapat dipahami dan diwariskan melalui karya yang lebih komunikatif, artistik, dan dekat dengan masyarakat.

Kolaborasi antara seniman dan Dispusaka Sulteng pun diharapkan terus berlanjut, sekaligus melahirkan bentuk-bentuk baru pengarsipan yang mampu mempertemukan seni, literasi, sejarah, dan kebudayaan dalam satu ruang. (**)