ELSINDO, PALU- Realisasi investasi di Sulawesi Tengah terus menunjukkan tren positif. Pertumbuhan investasi tersebut tidak hanya tercermin dari nilai penanaman modal, tetapi juga berdampak langsung terhadap penyerapan tenaga kerja di daerah.
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sulawesi Tengah mencatat sekitar 19 ribu tenaga kerja terserap dari aktivitas investasi yang berkembang di berbagai sektor.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator bahwa geliat investasi di Sulawesi Tengah mulai memberikan efek nyata terhadap perekonomian masyarakat.
Secara keseluruhan, berdasarkan rilis resmi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tahun 2025, realisasi investasi Sulawesi Tengah mencapai Rp127,2 triliun.
Nilai tersebut menyumbang sekitar 6,6 persen terhadap total investasi nasional dan menempatkan Sulawesi Tengah sebagai salah satu daerah dengan kinerja investasi terbesar di luar Pulau Jawa.
Kepala DPMPTSP Sulawesi Tengah, Moh. Rifani Pakamundi, S.Sos., M.Si., mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari komitmen pemerintah daerah dalam menciptakan iklim investasi yang memberikan kemudahan sekaligus kepastian berusaha.
“Ini dalam rangka memberikan kemudahan bagi para pelaku usaha untuk berinvestasi di Sulawesi Tengah. Sulawesi Tengah kini menjadi juara realisasi investasi di luar Pulau Jawa,” ujar Rifani saat ditemui di Palu, Selasa (1/9/2026).
Menurut Rifani, pemerintah daerah terus melakukan pembenahan terhadap layanan investasi melalui program prioritas “Berani Harmoni”, salah satu dari sembilan program unggulan Gubernur Sulawesi Tengah yang tertuang dalam RPJMD.
Program tersebut diarahkan pada reformasi kualitas pelayanan perizinan serta penyederhanaan birokrasi.
Dengan proses perizinan yang lebih cepat dan transparan, pemerintah berharap semakin banyak investor yang tertarik menanamkan modalnya di Sulawesi Tengah.
Besarnya investasi Sulawesi Tengah masih ditopang sektor industri pengolahan, khususnya industri logam dasar di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara.
Kawasan industri strategis seperti IMIP dan GNI/SEI terus berkembang dan mulai diarahkan menuju ekosistem industri baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
Pertumbuhan kawasan industri tersebut turut menciptakan kebutuhan tenaga kerja dalam jumlah besar, sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya usaha-usaha pendukung di sekitar kawasan industri.
Pemerintah daerah menilai kondisi ini menjadi peluang untuk memperluas manfaat investasi, sehingga tidak hanya dinikmati perusahaan besar, tetapi juga masyarakat dan pelaku UMKM.
Di sisi lain, Sulawesi Tengah juga mencatat posisi strategis untuk proyek Floating Storage Regasification Unit (FSRU), yang menempatkan provinsi ini sebagai salah satu daerah terdepan di luar Pulau Jawa.
Rifani menegaskan, keberhasilan investasi tidak semata-mata diukur dari besarnya nilai modal yang masuk, tetapi juga dari dampaknya terhadap masyarakat.
Karena itu, DPMPTSP Sulteng terus mendorong kemudahan legalitas usaha melalui percepatan penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB) bagi masyarakat dan UMKM.
Legalitas tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi pelaku usaha lokal untuk mengakses permodalan, membangun kemitraan, dan mengembangkan usaha.
Pemerintah juga mulai mendorong diversifikasi investasi ke sektor pertanian, perkebunan, dan lumbung pangan, terutama di wilayah Donggala.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan mengurangi konsentrasi investasi di sektor pertambangan dan industri logam.
Rifani menegaskan seluruh upaya tersebut diarahkan untuk mendukung visi “SULTENG NAMBASO”, yakni mewujudkan Sulawesi Tengah yang lebih maju, seimbang, dan berdaya saing.
“Seluruh program kami arahkan untuk mewujudkan Sulawesi Tengah yang lebih maju, seimbang, dan berdaya saing,” pungkasnya. (**)














