ELSINDO, PALU — Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) resmi membuka Program Inkubasi Pabeta Tahun 2026 di Palu, Selasa (1/9/2026).
Program ini menjadi salah satu langkah Pemprov Sulteng dalam memperkuat sektor UMKM sekaligus mendorong pelaku usaha lokal agar mampu berkembang, memperluas pasar, dan meningkatkan daya saing.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulawesi Tengah, H. Sumarno, SE, mengatakan UMKM memiliki peran penting sebagai salah satu penopang perekonomian daerah.
Namun, menurutnya, banyak pelaku usaha masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari lemahnya manajemen, kurangnya pemahaman terhadap pasar, hingga belum memiliki sistem bisnis yang terarah.
Karena itu, Program Inkubasi Pabeta diharapkan menjadi wadah pembinaan yang dapat membantu pelaku usaha memperkuat fondasi bisnisnya.
“Pelaku usaha tidak hanya harus mampu memulai, tetapi juga harus mampu bertahan, berkembang secara sehat dan memiliki daya saing,” ujarnya dalam kegiatan pembukaan.
Program Inkubasi Pabeta 2026 juga diarahkan untuk mendukung program prioritas Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, BERANI HARMONI.
Melalui program tersebut, UMKM yang mengelola komoditas unggulan daerah didorong untuk naik kelas, melakukan scale up, serta lebih siap memasuki pasar yang lebih luas.
Selain penguatan kapasitas usaha, program ini diharapkan ikut berkontribusi dalam menekan angka pengangguran dan kemiskinan melalui pengembangan kewirausahaan.
Peningkatan rasio kewirausahaan daerah juga menjadi salah satu sasaran program, sejalan dengan arah kebijakan pengembangan kewirausahaan nasional berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2022.
Antusiasme pelaku UMKM terhadap Program Inkubasi Pabeta 2026 cukup tinggi. Dari 93 pendaftar, sebanyak 50 orang lolos pada tahap awal seleksi.
Setelah melalui proses verifikasi dan seleksi lanjutan, ditetapkan 26 peserta yang mengikuti program secara penuh.
Para peserta tersebut merupakan perwakilan dari 12 kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah.
Program ini berlangsung selama empat bulan, mulai Juli hingga November 2026, dengan total pembelajaran sebanyak 636 Jam Pelajaran/Pelatihan (JPL).
Pelaksanaannya menggunakan metode bauran, yakni perpaduan pembelajaran secara tatap muka dan daring.
Para peserta akan mendapatkan pendampingan dari tenaga ahli program inkubasi dan praktisi kewirausahaan melalui tiga tahapan.
Tahap pertama adalah pra-inkubasi, yang meliputi workshop bisnis, onboarding tenant, serta penilaian kesiapan bisnis.
Tahap kedua yakni inkubasi, dengan fokus pada mentoring bisnis, manajemen mutu dan produksi, kunjungan ke lokasi usaha, serta business matching untuk membuka peluang kerja sama dan akses pasar.
Sementara tahap ketiga adalah pasca-inkubasi, yang meliputi workshop penguatan akhir bisnis, evaluasi capaian, hingga proses graduasi dan awarding tenant.
Program yang dibiayai melalui APBD Provinsi Sulawesi Tengah Tahun Anggaran 2026 tersebut diharapkan tidak sekadar menghasilkan peserta yang memperoleh pelatihan.
Lebih dari itu, pemerintah menargetkan lahirnya pelaku usaha yang mampu mengelola bisnis secara profesional, memperluas jaringan pasar, menciptakan lapangan kerja, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah.
Dengan 26 pelaku usaha dari berbagai wilayah yang mendapat pendampingan secara intensif, Inkubasi Pabeta diharapkan menjadi salah satu langkah konkret untuk menjadikan UMKM Sulteng semakin kuat, mandiri, dan siap bersaing di pasar yang lebih luas. (**)













