PT Vale Jaga Kelestarian Ekosistem Lingkungan Hingga Penguatan Ekonomi Berkelanjutan

PT Vale Indonesia Tbk di Morowali tidak hanya diwarnai dengan pencapaian bisnis, tetapi juga berbagai kegiatan sosial, lingkungan, kesehatan, dan pengembangan sumber daya manusia sebagai wujud komitmen perusahaan terhadap pembangunan berkelanjutan. FOTO : DOKUMENTASI PT Vale Indonesia Tbk.

ELSINDO, PALU – Proyek Strategis Nasional (PSN) yang digaungkan oleh Pemerintah Pusat di Jakarta, memang semakin kian efektif sejak beberapa tahun terakhir. Apalagi di sektor industri pertambangan yang kini menjadi corong pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut juga dinilai sebagai bentuk perhatian terhadap perekonomian Indonesia ke depan.

Tak terkecuali dengan di tiga wilayah di Pulau Sulawesi yaitu, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara. Adanya salah satu perusahaan tambang terbesar, yakni PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) membuat investasi di Indonesia bagian Timur mulai diperhitungkan para investor. Dengan begitu, nilai pendapatan asli daerah juga ikut bertambah dan pasti akan meningkatkan perekonomian.

Khususnya di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, PT Vale Indonesia memberikan kontribusi besar terhadap masyarakat dan pemerintah daerah. Mulai dari pemulihan ekosistem lingkungan hingga penguatan terhadap ekonomi bisnis UMKM warga. Selain itu, hal ini juga dianggap sebagai bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID).

Dalam menyatukan persepsi mengenai pentingnya menjaga suasana investasi, sekaligus memastikan manfaat sosial-ekonomi dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat. PT Vale membangun pemahaman bersama agar keberlanjutan pembangunan membutuhkan kepercayaan, partisipasi, dan kemitraan yang saling menguatkan.

Hal ini mencerminkan komitmen industri pertambangan Indonesia untuk mengawal dan mendukung pengembangan proyek strategis PT Vale sebagai bagian dari hilirisasi mineral nasional. Bahkan, termasuk dalam memperkuat nilai tambah sumber daya mineral Indonesia, sekaligus mendorong posisi Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik.

Dukungan tersebut tidak hanya diarahkan pada keberlanjutan pembangunan proyek, tetapi juga pada penguatan kepastian investasi, tata kelola yang baik, perlindungan terhadap masyarakat dan lingkungan, serta penciptaan manfaat ekonomi jangka panjang. Dampak positif adanya PT Vale mampu meningkatkan tumbuhnya ekosistem industri baru.

Selain peningkatan aktivitas ekonomi daerah, PT Vale Indonesia juga bertujuan melakukan pengembangan kapasitas tenaga kerja dan terbukanya peluang usaha bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi. PT Vale kini mulai mematangkan rencana pascatambang untuk wilayah Bahodopi Blok 2 dan 3 yang diproyeksikan berlangsung pada 2036 – 2040.

Salah satu upaya itu dibahas melalui Konsultasi Stakeholder yang digelar PT Vale pada Jumat lalu (18/9/2026) di Desa Bente, Kecamatan Bungku Tengah, Kabupaten Morowali. Forum tersebut menjadi ruang terbuka bagi pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya untuk menyampaikan masukan terkait arah pascatambang.

Berdasarkan catatan ada enam fokus pascatambang yang akan dilaksanakan PT Vale di Bahodopi, Kabupaten Morowali. Secara garis besar terdapat sejumlah aspek utama yang menjadi perhatian pascatambang Bahodopi Blok 2 dan 3. Hal itu dipandang sebagai upaya bersama untuk memastikan masyarakat memiliki lingkungan yang layak.

Pertama, rehabilitasi dan revegetasi lahan. PT Vale akan melakukan penataan bentang alam, penanaman kembali, pengembalian kesuburan tanah, sehingga pengendalian erosi dan sedimentasi. Langkah tersebut diharapkan membuat kawasan bekas tambang tetap aman sekaligus dapat memberikan manfaat yang produktif bagi masyarakat.

Kedua, pengelolaan air dan lingkungan. PT Vale berkomitmen menjaga kualitas dan kuantitas air, memastikan hasil pengelolaan air memenuhi para meter lingkungan sesuai baku mutu, serta melakukan pemantauan terhadap udara, air, dan keanekaragaman hayati.

Ketiga, kestabilan geoteknik dan keselamatan. Aspek ini diarahkan untuk memastikan kawasan bekas aktivitas pertambangan berada dalam kondisi stabil dan aman serta tidak menimbulkan risiko bagi masyarakat sekitar.

Keempat, pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat. PT Vale menyiapkan sejumlah program antara lain pelatihan, pengembangan UMKM, serta pengembangan sektor pertanian dan perkebunan.

Kelima, pemanfaatan aset, infrastruktur, dan fasilitas yang masih layak dan dapat dimanfaatkan masyarakat sesuai ketentuan regulasi. Sementara aspek yang keenam adalah sinkronisasi kebijakan dan tata ruang, sehingga rencana pascatambang dapat berjalan selaras dengan kebijakan pemerintah dan kebutuhan pembangunan daerah.

Head Of Permit PT Vale, Muharam Zamzam mengatakan bahwa ini adalah bagian penting dari komitmen perusahaan dalam menjalankan aktivitas pertambangan yang bertanggung jawab, transparan, dan berkelanjutan. Menurutnya, perusahaan juga menyadari bahwa setiap kegiatan pertambangan pasti memiliki siklus.

“Karena itu, persiapan pascatambang dilakukan sejak jauh hari sebelum kegiatan operasional berakhir. Kami menyadari bahwa kegiatan pertambangan memiliki siklus. Olehnya, sejak dini kami mulai menyusun rencana pascatambang di Bahodopi Blok 2 dan 3 pada tahun 2036 – 2040 mendatang,” ujarnya.

Ditegaskan, rencana tersebut tidak dimaknai sekadar sebagai pemenuhan kewajiban regulasi. Lebih jauh, PT Vale menilai pascatambang dipandang sebagai upaya untuk memastikan masyarakat tetap memiliki lingkungan yang layak, perekonomian yang terus tumbuh, hingga masa depan lebih baik setelah aktivitas pertambangan berakhir.

“Kami tidak ingin meninggalkan bekas tambang yang tanpa manfaat, kami ingin meninggalkan warisan positif, dari lahan yang direhabilitasi, air yang dikelola, masyarakat yang berdaya, serta sinergi yang terus terjaga. Terdapat sejumlah aspek utama yang menjadi perhatian dalam rencana pascatambang di Bahodopi Blok 2 dan 3,” kata Muharam Zamzam.

Pemerintah Daerah Minta Pascatambang Jadi Investasi Masa Depan

Bupati Morowali, Iksan Baharudin Abdul Rauf menilai bahwa pascatambang merupakan tahapan penting yang harus dipersiapkan secara serius karena menjadi fase akhir dari keseluruhan siklus pertambangan. Menurut Iksan, pascatambang justru dapat menjadi momentum untuk membangun sumber ekonomi baru bagi masyarakat.

“Pascatambang harus mampu membangun sumber ekonomi baru untuk masyarakat ketika perusahaan tidak lagi melakukan aktivitas pertambangan. Contohnya, pengembangan komoditas seperti jambu mete dan kelapa sawit yang dapat diarahkan untuk memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat,” kata Bupati Morowali.

Bupati Morowali meminta seluruh pihak yang terlibat agar memberikan perhatian serius terhadap setiap aspek rencana pascatambang. Iksan juga berharap hasil kajian dan masukan nantinya menghasilkan program yang berdampak positif kepada ekosistem lingkungan dan memperkuat perekonomian masyarakat, khususnya di Kabupaten Morowali.

“Kami dari pemerintah daerah yakin kepada komitmen PT Vale dalam pengelolaan lingkungan. Hal itu terlihat dari pengelolaan air limpasan tambang melalui fasilitas sediment pond yang telah dibangun perusahaan PT Vale memiliki luas sekitar 10 hektare. Kebetulan kami sudah kontrol sendiri tentang sediment pond, sangat luar biasa,” tanda Bupati.

Proyek HPAL Sambalagi Capai Tonggak Penting dengan Kedatangan Autoclave, Perkuat Masa Depan Hilirisasi Berkelanjutan

Pada 22 Juli 2026 lalu, sesuai data PT Vale upaya memperkuat hilirisasi nikel nasional dan membangun rantai pasok industri baterai berkelanjutan kembali mencatat kemajuan penting. PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale), anggota Mining Industry Indonesia (MIND ID) bersama mitranya GEM Co. Ltd., dan Ecopro kembali mencatat tonggak penting dalam pengembangan hilirisasi nikel berkelanjutan melalui kedatangan autoclave, peralatan utama untuk proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Sambalagi, Bungku Pesisir, Morowali, Sulawesi Tengah.

Momentum ini menandai kemajuan signifikan dalam pembangunan fasilitas pengolahan nikel berkarbon rendah yang menjadi bagian dari Indonesia Growth Project (IGP) Morowali. Sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), Proyek HPAL Sambalagi menjadi bagian penting dari agenda pemerintah dalam mempercepat hilirisasi nikel dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional.

Status tersebut ditetapkan melalui Permenko Perekonomian No. 9 Tahun 2022 dan No. 21 Tahun 2022 yang menetapkan mega-proyek integrasi tambang PT Vale di Blok Bahodopi dan fasilitas pengolahan nikel sebagai PSN. Proyek HPAL terintegrasi dengan tambang Blok Bahodopi ini dikembangkan melalui PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI), perusahaan patungan antara PT Vale, GEM Co., Ltd., dan EcoPro. Berlokasi di kawasan Indonesia Green Industrial Park (IGIP), Morowali, Sulawesi Tengah, proyek ini dirancang untuk mendukung pengembangan industri hilir nikel yang berdaya saing global sekaligus mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Kedatangan autoclave merupakan milestone strategis dalam tahapan konstruksi proyek. Sebagai peralatan utama dalam teknologi HPAL, autoclave berperan sebagai inti proses pengolahan bijih limonit melalui kombinasi suhu tinggi, tekanan tinggi, dan asam sulfat untuk mengekstraksi nikel dan kobalt secara efisien.

Hasil pengolahan tersebut berupa Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), material antara yang menjadi bahan baku penting dalam rantai pasok industri baterai kendaraan listrik. Fasilitas HPAL Sambalagi dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 90.000 ton kandungan nikel per tahun dalam bentuk MHP, dengan pasokan bahan baku sekitar 10,4 juta ton bijih limonit per tahun yang berasal dari area pertambangan PT Vale di Bahodopi.

“Pabrik dibangun dalam tiga jalur produksi (Line A, B, dan C) sebagai bagian dari pengembangan fasilitas yang ditargetkan mencapai first mechanical completion pada akhir 2026,” kata Presiden Direktur & Chief Executive Officer PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto.

Bernardus Irmanto mengatakan bahwa kedatangan autoclave menjadi simbol kemajuan nyata proyek sekaligus mempertegas komitmen perusahaan dalam menghadirkan hilirisasi mineral yang berkelanjutan. Sebagai bagian dari komitmen terhadap operasi yang lebih berkelanjutan, ia mengaku Proyek HPAL Sambalagi juga mengintegrasikan berbagai solusi rendah karbon dalam desain fasilitasnya.

“Kedatangan autoclave ini merupakan tonggak penting dalam Proyek HPAL Sambalagi. Sebagai jantung dari proses HPAL, autoclave akan memungkinkan pengolahan bijih limonit menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mendukung rantai pasok global kendaraan listrik,” jelas Presiden Direktur & Chief Executive Officer PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto.

Momentum ini mencerminkan komitmen PT Vale bersama para mitra untuk menghadirkan industri pengolahan nikel yang berdaya saing, mengedepankan prinsip keberlanjutan, keselamatan kerja, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi Indonesia dan masyarakat di sekitar wilayah operasi.

Kebutuhan listrik operasional akan didukung oleh Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG) yang memanfaatkan panas sisa proses produksi untuk menghasilkan listrik secara lebih efisien. Selain itu, pengembangan pembangkit listrik tenaga surya juga direncanakan
sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemanfaatan energi bersih di kawasan industri.

Selain membangun fasilitas pengolahan, proyek ini turut mengembangkan infrastruktur pendukung seperti dermaga logistik, fasilitas utilitas, kawasan hunian pekerja, serta berbagai fasilitas sosial yang akan menunjang operasional jangka panjang.

PT Vale Integrasikan Teknologi dan Lingkungan dalam Mendukung Operasi Tambang Morowali

Selain memulihkan ekosistem lingkungan, membangun fasilitas pengolahan, dan memperkuat perekonomian di daerah. PT Vale juga terus melakukan transformasi industri pertambangan di Sulawesi Tengah mulai bergerak ke arah yang semakin mengandalkan teknologi.

D tengah tuntutan terhadap keselamatan, efisiensi, dan perlindungan lingkungan, PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) juga mengintegrasikan digitalisasi dan praktik pertambangan berkelanjutan di wilayah operasinya di Kabupaten Morowali.

Senior Manager Bahodopi Operation PT Vale, Sarjan Soleman mengatakan pengelolaan sumber daya mineral tidak bisa hanya berorientasi pada produksi. Diungkapkan, kegiatan pertambangan harus berjalan beriringan dengan keselamatan pekerja, perlindungan lingkungan, serta manfaat bagi masyarakat.

“Bagi PT Vale, pertambangan berkelanjutan bukan hanya mengenai bagaimana kami mengelola sumber daya mineral, tetapi juga bagaimana memastikan setiap kegiatan dijalankan secara bertanggung jawab dengan memperhatikan keselamatan, lingkungan, masyarakat, dan kepentingan generasi mendatang,” ujar Sarjan, Selasa (22/9/2026).

Di Morowali, PT Vale mulai memasuki tahap produksi pada 2025 setelah melakukan persiapan dan pembangunan infrastruktur sejak 2023. Dalam pengembangan operasinya di Bungku Timur, perusahaan menerapkan prinsip good mining practices yang mencakup keselamatan dan kesehatan kerja, tata kelola operasional, konservasi, sumber daya, reklamasi, dan rehabilitasi lahan, pengelolaan keanekaragaman hayati, hingga pemberdayaan masyarakat.

Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah penggunaan Minerva, Mine Management System yang memungkinkan aktivitas dan peralatan tambang dipantau secara terintegritas dan real time.

Sistem tersebut dapat memberikan informasi mengenai pergerakan alat, aktivitas penambangan hingga kondisi jalan tambang. Data yang diperoleh kemudian menjadi salah satu dasar dalam pengambilan keputusan operasional.

“Minerva kami terapkan agar peralatan untuk kegiatan konstruksi maupun penambangan dapat dipantau secara terintegrasi. Informasi tersebut membantu kami melihat kondisi aktual di lapangan dan mengambil keputusan berbasis data,” jelas Sarjan.

Tak hanya itu, PT Vale juga menggunakan sistem high precision pada excavator. Teknologi tersebut membantu operator melakukan penggalian berdasarkan desain dan parameter teknis yang telah dilakukan. Penerapan teknologi ini membuat pekerjaan penggalian menjadi lebih presisi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap patok survei konvensional.

Pada saat yang sama, teknologi tersebut turut mendukung upaya konservasi sumber daya mineral. Bagi PT Vale, digitalisasi bukan sekadar upaya meningkatkan produktivitas. Teknologi ditempatkan sebagai bagian dari sistem pengelolaan tambang yang menghubungkan produktivitas dengan keselamatan, efisiensi, serta pengendalian dampak lingkungan. (FA)