ELSINDO, PALU– Memasuki tujuh tahun pascabencana gempa, tsunami, dan likuefaksi yang melanda Pasigala pada 28 September 2018, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sulawesi Tengah menggelar Coffee Morning bertajuk Refleksi 7 Tahun Bencana Pasigala dengan tema “Karakter Gempa Palu”, Sabtu (27/9/2025) di halaman Masjid Al-Firdaus, Palu.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Bidang Kepanduan dan Bela Negara DPW PKS Sulteng, menghadirkan Kepala Stasiun Geofisika BMKG Palu, Sujabar, ST, M.Si, sebagai narasumber.
Kepala Bidang Kepanduan dan Bela Negara DPW PKS Sulteng, Iwan Rifai, menuturkan kegiatan ini menjadi momentum untuk mengingat kembali peristiwa kelam 2018 sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat akan potensi kegempaan di Sulawesi Tengah.
“Banyak cerita, bahkan hoaks yang berkembang saat bencana itu terjadi. Melalui Coffee Morning ini, kita ingin refleksi bersama, berdoa agar musibah serupa tidak terulang, sekaligus belajar memahami karakter gempa di Palu dari ahlinya,” jelas Iwan.
Dalam pemaparannya, Kepala Stasiun Geofisika BMKG Palu, Sujabar, mengingatkan bahwa Sulawesi Tengah merupakan salah satu wilayah dengan tingkat kegempaan tinggi di Indonesia. Hal ini karena letaknya berada di pertemuan tiga lempeng besar dunia, serta keberadaan 37 sesar aktif di daratan Sulteng.
“Rata-rata dalam sehari terjadi enam kali gempa di Sulteng. Ada dua sumber gempa utama, yaitu di Tolitoli dan sesar Palu-Koro. Jadi wajar bila gempa di Buol atau Poso pun bisa terasa hingga ke Palu,” jelas Sujabar.
Ia juga menekankan pentingnya pemahaman masyarakat mengenai efek gempa. “Ada gempa yang merusak bangunan, ada juga yang berpotensi tsunami. Karakter gempa Palu berbeda karena sesarnya bergeser, sementara tsunami yang melanda 2018 lalu dipicu longsor di Teluk Palu, akibat endapan material dari muara sungai,” paparnya.
Melalui kegiatan ini, PKS Sulteng berharap masyarakat tidak hanya merefleksi bencana Pasigala, tetapi juga memperkuat kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana di masa depan. “Dengan memahami karakter gempa, kita bisa lebih waspada tanpa panik berlebihan,” tutup Sujabar. (del)















