Seluruh Madrasah di Sulteng Ditargetkan Terapkan Kurikulum Berbasis Cinta pada 2026

ELSINDO, PALU – Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Sulawesi Tengah menargetkan seluruh madrasah di daerah itu mulai menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) secara penuh pada tahun 2026.

Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Sulteng, H. Muh. Syamsu Nursi, mengatakan secara umum madrasah, khususnya madrasah negeri, sudah hampir sepenuhnya siap menerapkan kurikulum tersebut.

“Kalau sosialisasi terkait KBC, saya memantau dari madrasah, terkhusus yang negeri, sudah hampir 100 persen mereka melakukan sosialisasi dengan guru-guru, baik dalam bentuk workshop maupun pelatihan,” ujar Syamsu, di ruang kerjanya, Rabu, 11 Maret 2026.

Menurutnya, momentum bulan Ramadan dan masa libur sebelumnya juga dimanfaatkan oleh sejumlah madrasah untuk menggelar kegiatan pelatihan serta penguatan pemahaman guru terkait implementasi kurikulum tersebut.

Ia menegaskan, penerapan Kurikulum Berbasis Cinta bukan menunggu tahun ajaran baru, namun sudah mulai diterapkan sejak awal tahun ini dan akan berlaku penuh di seluruh madrasah pada tahun ajaran 2026.

“Bahkan sebenarnya dimulai dari Januari ini. Tahun ajaran baru nanti sudah harus 100 persen KBC di seluruh madrasah,” jelasnya.

Meski demikian, Syamsu mengakui masih terdapat beberapa kendala di sejumlah madrasah swasta, terutama yang berada di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

Hal ini disebabkan keterbatasan akses para asesor maupun pengawas dalam menjangkau madrasah di daerah tersebut untuk melakukan sosialisasi secara langsung.

“Di daerah 3T itu agak susah dijangkau oleh para asesor maupun pengawas untuk melakukan sosialisasi. Sehingga mereka baru mendapatkan informasi melalui panduan yang dibuat oleh kementerian,” katanya.
Meski begitu, ia memastikan seluruh madrasah tetap diwajibkan menerapkan KBC pada tahun 2026.

Syamsu menjelaskan, Kurikulum Berbasis Cinta sebenarnya bukan kurikulum baru. Kurikulum tersebut tetap menggunakan Kurikulum Merdeka atau Kurikulum 2013 (K-13) yang disandingkan dengan nilai-nilai pendidikan berbasis cinta.

Dalam implementasinya, terdapat lima nilai utama yang menjadi landasan, yakni cinta kepada Allah, cinta kepada sesama manusia, cinta kepada lingkungan, cinta kepada bangsa dan tanah air, serta cinta terhadap diri sendiri.

“Pemerintah melihat kondisi saat ini, di mana ruh pendidikan itu seakan mulai hilang. Kehadiran kurikulum cinta ini bertujuan untuk mengembalikan ruh pendidikan itu,” ungkapnya.

Dengan penerapan nilai-nilai tersebut, diharapkan lingkungan madrasah menjadi lebih ramah dan bebas dari kekerasan, termasuk praktik perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.

“Paling tidak khususnya di madrasah tidak ada lagi kasus-kasus kekerasan, terutama bullying. Karena yang ditekankan adalah kasih sayang antar sesama, lingkungan, dan juga kepada bangsa serta agama,” ujarnya.

Ia menambahkan, peran guru menjadi kunci utama dalam keberhasilan implementasi kurikulum tersebut. Guru dituntut mampu menghadirkan suasana belajar yang nyaman dan tidak menimbulkan rasa takut bagi siswa.

“Madrasah itu harus menjadi rumah kedua bagi siswa. Jadi tidak ada lagi rasa takut datang ke sekolah,” katanya.

Selain itu, penguatan sistem di madrasah, pengawasan yang ketat, serta dukungan dari orang tua juga menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan penerapan Kurikulum Berbasis Cinta.

“Dulu mungkin ada guru yang ditakuti siswa, sampai anak-anak merasa tertekan. Sekarang dengan kehadiran kurikulum ini diharapkan tidak lagi seperti itu. Pendidikan harus menghadirkan suasana yang lebih humanis dan penuh kasih,” tutupnya. (**)