Puisi  

SOCRATES

Nasrullah Muhammadong. (FOTO: IST)

Oleh: N. Muhammadong

Tak lebih dari penampilan
yang sederhana.
Bertubuh pendek, agak tambun.
Hidung batok, sedikit pesek.
Tapi ia selalu menatap tajam.
Seolah menyingkap rahasia
jiwa manusia.

1. Keliling Kota

Tiap hari keliling kota.
Tak pernah jemu menebar tanya.
Di pasar, di pelataran, di sudut jalan,
ia berdialog dengan siapapun.
Bukan untuk kemuliaan diri.
Tapi demi menyingkap tabir kebenaran.
Meski sering tak mudah diterima.

2. Peradilan Sesat

Suatu hari, peradilan sesat
mencoba bungkam suaranya.
Namun jiwanya tak pernah terhimpit.
Dengan kepala tegak dan hati lapang,
Socrates tetap setia pada kebenaran.
Ia meyakini, itu lebih berharga
dari pada hidupnya.

3. Diajak Kabur

Murid-muridnya mengajak kabur.
Namun ia berkata:
Nilai perjuangan,
tak terlihat dalam pelarian.
Memang aku terpenjara.
Tapi jiwa dan pikiranku,
tetap bebas di luar sana.

4. Rela Minum Racun

Disodorkan racun,
atau minta maaf.
Sebuah pilihan getir,
Hidup tanpa martabat,
atau mati dengan kejernihan jiwa.
Akhirnya ia meneguk
rasa pahit itu.
Racun menyelinap di nadinya,
hingga ajal merengkuh
dalam diamnya.

5. Menembus Zaman

Socrates telah mati.
Namun jiwanya tidak terkubur.
Pikirannya tetap bergentayangan,
di dinding University of Oxford.
Berbagai pertanyaannya,
tetap menyulut api pencarian
di ruang-ruang kuliah Harvard.

Socrates terus berkelana.
Ia menembus zaman.
Menghidupi jiwa-jiwa
yang dahaga akan
kebenaran dan keadilan.