ELSINDO, PALU- Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Provinsi Sulawesi Tengah, Dr. Yudiawati V. Windarrusliana, menegaskan komitmennya menghadirkan program yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Di bawah kepemimpinannya, DP3A Sulteng memfokuskan kinerja pada tiga program unggulan yang menyasar akar persoalan perempuan dan anak.
Ketiga program tersebut dirancang selaras dengan visi-misi Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid, khususnya semangat Berani Cerdas, Berani Sehat, dan Berani Sejahtera.
Program Pertama: Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga
Program pertama menyasar perempuan kepala keluarga atau single parent dari kelompok tidak mampu. Yudiawati menegaskan, pendekatan DP3A bukan sekadar memberi bantuan uang, melainkan memberdayakan secara berkelanjutan.
“Kita lihat potensi yang dia punya. Kalau bisa bikin kue, kita latih, dampingi, lalu kita hubungkan dengan UMKM, Dekranasda, hingga akses pasar,” jelasnya.
Melalui skema ini, perempuan didorong memiliki penghasilan mandiri sehingga mampu menopang kebutuhan keluarga. Jika diperlukan, DP3A juga memfasilitasi akses permodalan skala kecil agar usaha yang dirintis bisa berkembang.
Program Kedua: Digitalisasi Pembelajaran dan Pencegahan
Program kedua adalah penguatan pemberdayaan dan perlindungan melalui digitalisasi. DP3A Sulteng tengah menyiapkan platform digital berisi materi pelatihan UMKM, pemasaran produk, praktik baik, hingga edukasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Lewat aplikasi ini, ibu-ibu bisa belajar kapan saja. Mulai dari cara mengolah produk, memasarkan hasil usaha, sampai mengenali tanda-tanda kekerasan dan cara melapor,” ungkap Yudiawati.
Bagi wilayah desa dengan keterbatasan akses gawai, informasi akan disebarluaskan melalui barcode desa dan TV pintar desa. Digitalisasi ini sekaligus menjadi solusi di tengah kebijakan efisiensi anggaran tahun 2026.
Program Ketiga: Layanan Komprehensif Korban Kekerasan
Program ketiga berfokus pada penanganan komprehensif perempuan dan anak korban kekerasan. DP3A memperkuat peran UPT P3A dengan mendorong perbaikan sarana-prasarana, pendampingan psikologis, serta layanan yang lebih tertutup dan aman bagi korban.
Inovasi lain yang dihadirkan adalah konselor sebaya melalui Forum Anak. Anak-anak yang telah dilatih akan mendampingi teman sebayanya yang menjadi korban kekerasan.
“Anak mendampingi anak. Dengan teman sebaya, korban lebih nyaman bercerita dan tidak merasa sendiri,” katanya.
Yudiawati menegaskan, ketiga program ini dirancang sederhana namun berdampak luas. Targetnya, angka putus sekolah menurun, perempuan menjadi lebih berdaya, dan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat dicegah sejak dini.
“Perempuan harus berdaya, bukan sekadar diberi bantuan. Kalau perempuan berdaya, keluarga akan berkualitas, dan anak-anak bisa tumbuh cerdas dan sehat,” pungkasnya. (**)















