ELSINDO, PALU – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan SMP Al Azhar Mandiri Palu. Berdasarkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 yang diumumkan pada 26 Mei lalu, sekolah tersebut berhasil menempati peringkat pertama dari 53 SMP negeri dan swasta yang mengikuti TKA di Kota Palu.
Kepala SMP Al Azhar Mandiri Palu, Yuniarti H. Tunekon, M.Pd., Gr., mengungkapkan rasa syukur atas capaian tersebut. Menurutnya, hasil ini merupakan buah dari kolaborasi yang kuat antara yayasan, sekolah, guru, orang tua, dan para siswa.
“Alhamdulillah, dari 53 sekolah yang mengikuti TKA, kami melakukan pemetaan berdasarkan nilai rata-rata Matematika dan Bahasa Indonesia. Hasilnya, SMP Al Azhar Mandiri Palu berada di posisi pertama,” ujar Yuniarti.
Meski meraih posisi tertinggi, Yuniarti menegaskan pihaknya tidak ingin cepat berpuas diri. Masih ada beberapa siswa yang nilainya belum maksimal dan akan menjadi bahan evaluasi untuk peningkatan kualitas pembelajaran ke depan.
“Kami belum berpuas diri karena masih ada tiga siswa yang nilainya kurang. Ini menjadi bahan evaluasi untuk melihat apa yang perlu kami perbaiki agar hasil ke depan bisa lebih baik lagi,” katanya.
Menurut Yuniarti, keberhasilan tersebut tidak lepas dari strategi pembelajaran yang selama ini diterapkan sekolah. TKA sendiri merupakan sistem evaluasi baru yang mulai diterapkan pada tahun 2026. Dalam pelaksanaannya, materi asesmen digabungkan dengan soal-soal literasi dan numerasi sebagai bagian dari pengukuran kemampuan akademik siswa.
“TKA ini memang baru pertama kali dilaksanakan tahun 2026. Di dalamnya terdapat soal literasi, numerasi, dan asesmen yang digabungkan. Alhamdulillah, di tahun pertama pelaksanaannya kami bisa meraih hasil yang cukup baik,” ungkap Yuniarti.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa budaya literasi dan numerasi sebenarnya telah lama diterapkan di lingkungan SMP Al Azhar Mandiri Palu, bahkan sebelum pemerintah menguatkan program tersebut melalui Asesmen Nasional.
“Literasi dan numerasi bukan hal baru bagi kami. Bahkan dalam proses pembelajaran sehari-hari, soal-soal yang diberikan sudah berbasis literasi, numerasi dan survei lingkungan belajar. Karena itu, ketika program ini diperkuat oleh pemerintah, guru dan siswa tidak mengalami kesulitan dalam beradaptasi,” katanya.
Yuniarti berharap capaian yang diraih sekolahnya dapat menjadi motivasi untuk terus meningkatkan mutu pendidikan, sekaligus mendorong penguatan budaya literasi dan numerasi di seluruh sekolah di Indonesia.
“Harapan kami, hasil TKA ini menjadi dasar untuk bergerak lebih baik lagi ke depan. Selain itu, literasi dan numerasi dapat semakin kuat diterapkan di seluruh sekolah sehingga menjadi salah satu indikator kemajuan pendidikan Indonesia,” tutupnya.
Selain itu, dia berharap, semoga TKA di seluruh sekolah terutama di Indonesia bisa memperoleh nilai terbaik dan menghasilkan anak-anak didik atau siswa yang berkualitas kedepanya. (del)













