ELSNDO, PALU– Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Sulawesi Tengah (DP3A) Sulteng terus memperkuat program pemberdayaan perempuan sebagai strategi utama meningkatkan ketahanan keluarga dan kesejahteraan masyarakat.
Kepala DP3A Sulteng, Dr. Yudiawati V. Windarrusliana, SKM., M.Kes, menegaskan bahwa peran DP3A tidak hanya berbicara soal perempuan dan anak semata, tetapi juga menyasar penguatan keluarga sebagai fondasi utama pembangunan.
“Di dalamnya itu keluarga. Bagaimana kita meningkatkan ketahanan keluarga, tentu melalui pemberdayaan perempuan, terutama perempuan kepala keluarga dan yang belum bekerja,” ujarnya.
Fokus pada Perempuan Kepala Rumah Tangga
Yudiawati menjelaskan, perempuan yang menjadi kepala rumah tangga menghadapi beban ganda, baik secara ekonomi maupun sosial. Karena itu, DP3A menghadirkan berbagai pelatihan peningkatan kapasitas, khususnya bagi ibu rumah tangga dan single parent dari kelompok rentan.
Pelatihan yang diberikan antara lain pengolahan pangan berbasis sumber daya lokal, mulai dari produk hewani, nabati, hingga olahan fermentasi seperti yoghurt, keju, nugget, sosis, tempe, dan berbagai produk rumahan lainnya.
“Setelah mereka kita latih mengolah pangan, tujuannya bukan hanya untuk konsumsi sendiri, tetapi agar bisa dijual dan meningkatkan ekonomi keluarga,” jelasnya.
Tak hanya produksi, DP3A juga membekali peserta dengan pelatihan packaging dan pemasaran, termasuk penguatan manajemen usaha kecil agar produk memiliki daya saing.
Jika hasil evaluasi menunjukkan produk layak dan berkembang, DP3A akan mendorong peserta untuk mendaftar sebagai pelaku UMKM melalui OPD terkait seperti dinas perdagangan dan perindustrian.
“Kalau produknya bagus, kemasannya menarik, itu kita dorong jadi UMKM. Kita tingkatkan kelasnya,” katanya.
Para pelaku usaha perempuan juga dilibatkan dalam berbagai event pameran dan kegiatan ekonomi daerah, termasuk event seperti Sulteng Nambaso yang memberi ruang bagi puluhan UMKM untuk bergiliran memasarkan produknya.
Bagi yang membutuhkan tambahan modal, DP3A juga mendorong akses ke koperasi maupun Kredit Usaha Rakyat (KUR), sesuai kapasitas dan kebutuhan usaha.
Saat ini, DP3A tengah melakukan monitoring dan evaluasi pasca pelatihan, khususnya bagi peserta tiga tahun terakhir. Evaluasi dilakukan by name by address untuk melihat perkembangan usaha secara konkret.
Jika ditemukan peserta yang belum berkembang, DP3A akan melakukan pendampingan lanjutan dan mengidentifikasi penyebabnya, apakah karena keterbatasan modal atau ketidaksesuaian keterampilan.
“Kita harus tahu penyebab kegagalannya. Bisa jadi bukan talentanya di situ. Maka kita evaluasi dan dampingi lagi,” tegas Yudiawati.
Pendekatan ini juga berbasis data, menyasar perempuan dari kelompok desil 1, 2, dan 3, termasuk perempuan kepala keluarga dari keluarga tidak mampu.
Dalam 100 hari kerja, DP3A juga tengah merancang aplikasi platform pembelajaran perempuan dan anak. Aplikasi ini akan menjadi ruang edukasi, promosi produk, hingga pelaporan kasus kekerasan yang lebih cepat dan terintegrasi hingga tingkat desa.
Melalui Satgas perempuan dan anak di desa, aplikasi ini diharapkan membantu masyarakat yang belum sepenuhnya melek digital.
“Nanti yang sudah berhasil kita masukkan sebagai praktik baik. Kita buatkan video singkat keberhasilannya agar bisa memotivasi ibu-ibu lain,” jelasnya.
Selain sebagai sarana pembelajaran, platform digital tersebut juga akan mempercepat layanan pelaporan dan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Yudiawati menegaskan, seluruh program ini selaras dengan visi pembangunan daerah, termasuk penguatan program Berani Sejahtera, Berani Harmoni, Berani Sehat, dan Berani Cerdas.
“Kalau keluarga tidak sejahtera, potensi masalah kesehatan dan pendidikan juga muncul. Maka sebelum berkontribusi ke negara, perempuan harus berdaya dulu di keluarganya,” tuturnya.
Meski DP3A merupakan urusan wajib non-dasar dengan keterbatasan anggaran, pihaknya optimistis pemberdayaan perempuan yang tepat sasaran akan berdampak signifikan terhadap penurunan kemiskinan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
“Goal akhirnya perempuan berdaya, berkontribusi pada keluarga dan negara. Dan kalau sudah berhasil, mereka bisa menjadi model untuk daerah lain,” pungkasnya. (**)














