Forum Pelajar Anti Perundungan Hadir di Palu, Korban Bullying Kini Punya Teman Curhat

Sejumlah pelajar SD, SMP dan SMA di Kota Palu, yang tergabung di Forum Kolaborasi Pelajar Anti Perundungan saat foto bersama usai menerima materi, terkait dengan perundungan. (FOTO: ELSINDO)

ELSINDO, PALU – Semangat melawan perundungan di lingkungan sekolah terus digaungkan oleh para pelajar di Kota Palu. Melalui Forum Kolaborasi Pelajar Anti Perundungan, siswa SD, SMP dan SMA didorong menjadi pelopor sekaligus pendamping sebaya bagi teman-teman yang menjadi korban bullying.

Forum ini hadir sebagai ruang aman bagi pelajar yang mengalami perundungan, sehingga mereka tidak merasa sendirian dan berani mencari bantuan sebelum kasusnya berdampak lebih serius.

Ketua Forum Kolaborasi Pelajar Anti Perundungan, Miranti Artika Prameswari, mengatakan forum tersebut dibentuk untuk memberikan dukungan kepada korban sekaligus mengedukasi pelajar tentang bahaya perundungan.

“Forum ini menjadi wadah bagi teman-teman yang mengalami bullying. Anggota forum akan menjadi pelopor dan pendamping sebaya bagi teman-teman yang masih takut melapor. Kami ingin mereka memiliki tempat untuk bercerita dan mendapatkan dukungan,” ujar Miranti, Rabu, 22 Juli 2026.

Menurutnya, para anggota forum akan dibekali pemahaman mengenai berbagai bentuk perundungan, dampaknya terhadap kesehatan mental, hingga langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya bullying di sekolah.

Ia berharap kehadiran forum tersebut mampu menciptakan budaya saling peduli di kalangan pelajar. Sebelum mengadu kepada guru Bimbingan dan Konseling (BK), korban dapat lebih dulu berbicara kepada teman sebaya yang telah mendapatkan pembekalan.

“Harapannya, teman-teman yang menjadi korban tidak memendam masalah sendiri. Mereka bisa merasa didengar dan didampingi oleh sesama pelajar,” katanya.

Sementara itu, psikolog sekaligus pemateri kegiatan, Chatrin Tesalonika, S.Psi, menilai keterlibatan pelajar dalam upaya pencegahan perundungan merupakan langkah yang sangat penting.

Ia berharap para peserta tidak hanya memahami materi yang diberikan, tetapi juga berani menjadi agen perubahan di sekolah masing-masing.

“Semoga teman-teman lebih mawas diri, lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, dan berani membantu atau menolong teman-temannya agar kasus perundungan di Kota Palu bisa diminimalisir,” ujarnya.

Chatrin menjelaskan, selama ini edukasi mengenai bullying memang lebih banyak dilakukan di sekolah karena mayoritas kasus terjadi pada usia anak hingga remaja. Menurutnya, banyak siswa yang belum memahami bahwa candaan yang berlebihan dapat berubah menjadi tindakan perundungan.

Karena itu, ia mengajak seluruh pelajar untuk membangun budaya saling menghargai dan berani menghentikan setiap bentuk bullying.

“Harapan kami sederhana, tidak ada lagi perundungan di sekolah. Mari bersama-sama menjadi pelopor untuk mengatakan stop bullying,” tutupnya. (**)