IMIP : Pelita Rezeki Pekerja dan Warga

Area permukiman di lingkar industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), di Bahodopi menjadi peluang bagi warga untuk membuka usaha, seperti kios sambako dan warung makan. FOTO : (Dok. Departemen Media Relations IMIP)

Oleh : FIKRI ALIHANA / ELSINDO.ID

Gerak langkah kaki dan bunyi suara mesin industri itu, seperti tak pernah akan berhenti sehari semalam di sekitar kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Tampak jelas  para pekerja maupun warga selalu sibuk beraktivitas layaknya masyarakat kota metropolitan.

Ramai-nya iringan kendaraan bermotor yang dikendarai pekerja melintas di sepanjang jalan di Kecamatan Bahodopi. Warga pun tak merasa terganggu dengan adanya kebisingan suara itu. Bahkan, warga sekitar seperti merasa ada pelita rezeki yang mendatangi mereka lewat para pekerja yang mengadu nasib di PT IMIP.

Baik itu warga asli maupun pendatang dari berbagai daerah, khususnya yang berprofesi sebagai pelaku usaha. Mereka pun terlihat saling merangkul bersama dalam mengangkat kesejahteraan ekonomi keluarga. Kehidupan masyarakat di seputaran Kecamatan Bahodopi tidak akan lepas dari kegiatan industri dan pelaku usaha.

Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan domestik hingga detik ini, banyak menimbulkan pertanyaan di masyarakat Indonesia. Mulai dari kalangan elit hingga menengah ke bawah. Namun, hal itu tidak begitu berpengaruh bagi sebagian besar masyarakat di Sulawesi Tengah.

Daerah ini kaya akan sumber daya mineral, seperti adanya kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) yang hingga kini dikenal sebagai primadona para pekerja industri pertambangan nikel. Selain mampu merekrut ribuan tenaga kerja, IMIP juga bisa dibilang menjadi sumber rezeki atau penerang ekonomi bagi warga di Sulteng.

Salah satunya dengan pola konsumsi harian warga yang didominasi karyawan perusahaan dalam kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Kebutuhan berbelanja harian karyawan motor penggerak utama perputaran uang hingga mampu memunculkan tumbuhnya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di wilayah tersebut.

Survei yang dilakukan Tim Research and Support Departemen Secretariat General Affair PT IMIP mencatat bahwa 98,4 persen responden mengalokasikan pengeluaran mereka untuk kebutuhan konsumsi makanan dan minuman setiap hari. Ini menjadikan sektor kuliner sebagai salah satu tulang punggung utama ekonomi lokal di lingkar industri IMIP.

Adanya daya beli yang kuat menunjukkan besarnya tenaga kerja industri terhadap pertumbuhan ekonomi berbasis masyarakat. Tingginya konsumsi harian tersebut turut menggerakan UMKM di Bahodopi dan sekitarnya. Saat ini, tercatat kurang lebih sebanyak 7.643 UMKM yang beroperasi di sekitar kawasan IMIP, dengan komposisi usaha mikro 78 persen dan usaha kecil 22 persen.

Menariknya sebanyak 57 persen karyawan menyatakan lebih sering berbelanja di warung atau kios lokal dibandingkan ke toko ritel modern. Faktor kedekatan lokasi menjadi alasan utama, selain pertimbangan harga yang lebih terjangkau dan kedekatan sosial dengan pedagang.

Hal ini bukan lagi soal mendorong perekonomian daerah di Provinsi Sulawesi Tengah, melainkan sebagai bentuk komitmen PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) untuk terus mensejahterakan serta meningkatkan ekonomi masyarakat di wilayah Indonesia Timur, khususnya di Kabupaten Morowali.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah memasang target ambisius untuk memperkuat fondasi ekonomi masyarakat dengan mencetak 25.000 wirausaha baru dalam lima tahun. Target tersebut menjadi bagian dari RPJMD 2025–2029 dengan sasaran rata-rata 5.000 wirausaha baru setiap tahun.

Program tersebut dirancang bukan sekadar untuk menambah jumlah pelaku usaha, tetapi juga sebagai instrumen dalam mendorong penurunan pengangguran dan kemiskinan. UMKM dinilai sebagai salah satu kekuatan penting dalam pembangunan ekonomi daerah.

Bahkan, setiap usaha baru yang tumbuh diharapkan mampu memberikan dampak berantai, mulai dari peningkatan pendapatan keluarga hingga terciptanya lapangan kerja. Dengan target 25.000 wirausaha baru, peningkatan ekonomi dan semakin banyak masyarakat yang mampu menciptakan sumber penghasilan sendiri sekaligus membuka peluang kerja bagi orang lain.

Sedangkan Kabupaten Morowali menjadi sentrum ekonomi kerakyatan dengan hadirnya ribuan pelaku usaha lokal maupun pendatang yang jeli memanfaatkan peluang. Hadirnya PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) memang membawa angin segar dan membuka kesempatan bagi warga lain untuk mengais rezeki di daerah tersebut.

Sementara itu, tercatat realisasi investasi di Sulawesi Tengah terus menunjukkan tren positif. Pertumbuhan investasi tersebut tidak hanya tercermin dari nilai penanaman modal, tetapi juga berdampak langsung terhadap penyerapan tenaga kerja di daerah.

Di mana perekonomian Sulawesi Tengah ditopang oleh PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) yang menjadi penggerak utama penyerapan tenaga kerja dan menekan angka pengangguran terbuka di Kabupaten Morowali, khususnya wilayah Indonesia Timur.

Di satu sisi, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sulawesi Tengah mencatat sekitar 19 ribu tenaga kerja terserap dari aktivitas investasi yang berkembang di berbagai sektor. Capaian tersebut menjadi salah satu indikator bahwa geliat investasi di Sulawesi Tengah mulai memberikan efek nyata terhadap perekonomian masyarakat.

Secara keseluruhan, berdasarkan rilis resmi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tahun 2025, realisasi investasi Sulawesi Tengah mencapai Rp127,2 triliun. Nilai tersebut menyumbang sekitar 6,6 persen terhadap total investasi nasional dan menempatkan Sulawesi Tengah sebagai salah satu daerah dengan kinerja investasi terbesar di luar Pulau Jawa.

Dengan proses perizinan yang lebih cepat dan transparan, pemerintah berharap semakin banyak investor yang tertarik menanamkan modalnya di Sulawesi Tengah. Besarnya investasi Sulawesi Tengah masih ditopang sektor industri pengolahan, khususnya industri logam dasar di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara.

Kawasan industri strategis seperti IMIP dan GNI/SEI terus berkembang dan mulai diarahkan menuju ekosistem industri baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Pertumbuhan kawasan industri tersebut turut menciptakan kebutuhan tenaga kerja dalam jumlah besar, sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya usaha-usaha pendukung di sekitar kawasan industri.

Pemerintah daerah menilai kondisi ini menjadi peluang untuk memperluas manfaat investasi, sehingga tidak hanya dinikmati perusahaan besar, tetapi juga masyarakat dan pelaku UMKM. Karena itu, DPMPTSP Sulteng terus mendorong kemudahan legalitas usaha melalui percepatan penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB) bagi masyarakat dan UMKM.

Hingga akhir Agustus 2026, data yang dihimpun melalui HR Departemen PT IMIP, jumlah tenaga kerja telah mencapai 98.266 orang. Dari angka itu, 92 persen atau 90.405 orang dari Pulau Sulawesi. Sedangkan 32 persen atau 31.445 orang merupakan penduduk Provinsi Sulawesi Tengah, dan asal Morowali sebanyak 17.688 atau 18 persen.

Sementara tenaga kerja lokal Kecamatan Bahodopi ada 10.809 orang atau 11 persen. Tenaga kerja dari luar Sulawesi tercatat 8 persen atau 7.861 orang. Untuk tingkat pendidikan, 64,5 persen atau 63.382 orang adalah lulusan SMA/SMK yang telah dibekali pelatihan langsung saat menjadi karyawan IMIP. Sementara, 28,8 persen atau 28.301 orang adalah lulusan Sarjana (S1) dan 4,6 persen berijazah diploma.

Head of Media PT IMIP, Dedy Kurniawan, mengatakan, sebagai salah satu kawasan industri pengolahan nikel global, IMIP selalu berupaya melakukan transformasi untuk dapat menjawab tuntutan permasalahan tenaga kerja.

“IMIP tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga membuka peluang berbagai jenjang pendidikan untuk bertumbuh dan berkarya. Komitmen kami meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat,” ucap Dedy, Rabu (02/09/2026).

Kebijakan pengembangan hilirisasi sektor industri, menjadi salah satu upaya pemerintah dalam menekan angka pengangguran, sekaligus meningkatkan lapangan kerja dan pendapatan negara.

Industri pengolahan nikel turut memberi dampak terhadap dinamika perekonomian di daerah, seperti hadirnya kawasan IMIP yang memberikan kesempatan sama bagi semua pekerja di lingkungan kerja inklusif sebagai “ladang” meningkatkan kesejahteraan.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Morowali, Gladius Alfonsus, merilis data kondisi ketenagakerjaan di daerah Morowali pada Agustus 2025. Tercatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) melalui survei angkatan kerja nasional (Sakernas) sebesar 2,81 persen atau mengalami penurunan 0,34 persen poin dibandingkan Februari 2024, sebanyak 3,15 persen.

Jumlah angkatan kerja di Morowali pada Agustus 2025 tercatat 85.039 orang, yang terserap sebanyak 82.653 orang dan pengangguran masih tercatat 2.386 orang. Sedangkan jika dibandingkan dengan kondisi lima tahun terakhir pada 2020, angkatan kerja Kabupaten Morowali tercatat sebanyak 57.727 orang dan terserap bekerja 54.721 orang, serta jumlah pengangguran tercatat masih 3.006 orang. Pada tahun 2025 menurun jadi 2.386 orang.

Dari 85.039 angkatan kerja, ada 17.688 warga Morowali atau 20 persen, terserap di kawasan IMIP. Kehadiran kawasan industri berbasis nikel yang terintegrasi ini memang diarahkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat Morowali dan Sulteng secara luas.

“Sudah tertuang dalam visi, misi dan nilai perusahaan, bagaimana IMIP memfasilitasi perkembangan usaha masyarakat lokal dan memberi kontribusi nyata bagi daerah,” tegas Dedy.

Untuk kesejahteraan masyarakat sekitar lokasi industri, PT IMIP terus menyerap tenaga kerja lokal. Warga yang dulunya bekerja serabutan, kini setelah bekerja di IMIP mampu meningkatkan kualitas hidup dan rumah tangganya. Sejak tahun 2020, penyerapan tenaga kerja di kawasan IMIP, terus meningkat.

Jika tahun 2020 ada 35.592 orang, 2021 naik 51.542 orang, tahun 2022 sebanyak 68.466 orang, 2023 ada 74.350 orang dan 2024 sekitar 83.000 orang. Jumlah serapan tenaga kerja terus mengalami peningkatan secara signifikan setiap waktu, seiring meningkatnya nilai investasi di kawasan industri tersebut. (FA)