ELSINDO, PALU – Memasuki bulan suci Ramadan, suasana pembelajaran di SMP Negeri 14 Palu tampak berbeda. Jam belajar dipersingkat hingga pukul 12.00 WITA, namun para siswa tidak serta-merta pulang begitu saja. Sebelum meninggalkan sekolah, mereka diwajibkan melaksanakan salat zuhur berjamaah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMPN 14 Palu, Bahrija, menjelaskan bahwa selama Ramadan, kegiatan diawali dengan salat duha bersama, dilanjutkan tadarus Al-Qur’an, kemudian proses belajar mengajar.
“Kalau di bulan Ramadan ini, jam sudah dikurangi. Anak-anak pulang jam 12, tapi harus salat zuhur berjamaah dulu baru boleh pulang. Pagi mereka wajib duha dan tadarus, setelah itu baru belajar,” ujarnya.
Ia menegaskan, pola ini khusus diterapkan selama Ramadan. Di luar Ramadan, salat berjamaah tetap dilaksanakan, namun jam belajar berlangsung normal hingga sore hari.
Sebagai bagian dari penguatan karakter, sekolah juga menggelar pesantren Ramadan pada 4 hingga 6 Maret selama tiga hari. Kegiatan ini dikhususkan bagi seluruh siswa kelas VII.
“Saat pesantren, selain pemateri dari guru di sini, kami juga menghadirkan pemateri dari luar,” jelasnya.
Sementara itu, siswa kelas VIII tetap mengikuti pola kegiatan Ramadan seperti biasa—duha, tadarus, dan pembelajaran. Adapun kelas IX difokuskan pada penguatan akademik dan pembelajaran tambahan dalam rangka persiapan TKA.
Terkait jadwal libur, sekolah tetap mengacu pada kalender pendidikan yang berlaku.
Bahrija juga memanfaatkan momentum Ramadan untuk membangun mental dan kepercayaan diri siswa. Ia mengaku sempat masuk ke kelas dan berdialog langsung dengan siswa mengenai capaian tadarus mereka.
“Ada yang sudah delapan juz di hari keempat Ramadan, itu luar biasa. Tapi ada juga yang masih belajar iqra. Saya tekankan, tidak boleh ada yang menertawakan. Semua anak sedang berproses,” tegasnya.
Menurutnya, kemampuan mengaji setiap siswa berbeda, tergantung latar belakang dan pembinaan di rumah maupun TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an). Karena itu, budaya saling mendukung terus ditanamkan.
Selain pembinaan ibadah, sekolah juga mengingatkan siswa agar tidak menggunakan momen Ramadan untuk kegiatan negatif, seperti berkendara tanpa izin atau keluyuran saat sahur.
“Syarat membuat SIM harus punya KTP usia 17 tahun. Kalau belum cukup umur, tidak boleh berkendara sendiri,” pesannya.
Ia berharap Ramadan menjadi momentum mendekatkan siswa pada ibadah sekaligus membentuk kedisiplinan dan tanggung jawab.
SMPN 14 Palu juga menerapkan program “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” yang telah digulirkan sebelum Ramadan. Setiap siswa memiliki jurnal harian yang mencatat aktivitas mulai dari bangun pagi, olahraga, belajar, hingga ibadah dan tidur tepat waktu.
Sekolah juga meminta dokumentasi kegiatan siswa di rumah sebagai bagian dari evaluasi program.
Untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an, guru agama diminta mengadakan placement test. Siswa yang sudah lancar mengaji akan dikelompokkan dan didorong menjadi tutor sebaya bagi teman-temannya.
“Yang sudah bagus bacaannya bisa membantu temannya. Jadi saling menguatkan,” ujar Bahrija.
Bahkan dalam pelaksanaan salat berjamaah, siswa diberi kepercayaan menjadi imam dan petugas salat sebagai bagian dari pembinaan kepemimpinan.
Dengan berbagai program tersebut, Ramadan di SMPN 14 Palu bukan sekadar pengurangan jam belajar, melainkan momentum pembentukan karakter, penguatan ibadah, dan penanaman nilai disiplin bagi para siswa. (**)













