Siswa SMA Gamaliel Palu Dirawat Usai Diduga Dipaksa Sprint Saat Sakit, Orang Tua Minta Evaluasi Sekolah

Yayasan dan kepala serta guru dan orangtua siswa dan Kacabdis Wilayah 1, saat melakukan mediasi di ruangan pertemuan sekolah. (FOTO:FADEL)

ELSINDO, PALU— Pemaksaan aktivitas olahraga terhadap seorang siswa kelas X SMA Gamaliel Palu berinisial JJ hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit menjadi perhatian berbagai pihak. Orang tua siswa meminta pihak sekolah dan yayasan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan di sekolah.

Permasalahan tersebut dibahas dalam mediasi yang digelar di ruang pertemuan Yayasan Pendidikan Kristen Gamaliel Palu, Kamis (21/5/2026). Pertemuan dihadiri orangtua siswa, yayasan, sekolah, serta sejumlah pihak terkait.

Turut hadir Kepala Cabang Dinas Pendidikan Menengah Wilayah 1 Kota Palu dan Sigi, Kristi Aria Pratama, Ketua FKUB Kota Palu Dr. H. Ismail Pangeran, Direktur Sekolah Deby Sunaris mewakili yayasan, Guru PJOK, dan Kepala SMA Gamaliel Palu, Indra Matunggu.

Dalam mediasi itu, Vera selaku orang tua siswa mengungkapkan bahwa anaknya mengalami tekanan selama berada di lingkungan sekolah hingga takut menyampaikan kondisi yang dialami kepada keluarga.

“Ada pesan WA anak saya. Dia bilang, ‘Mama jangan permasalahkan, nanti saya lagi yang kena. Jadi saya merasa anak saya ini tertekan, olehnya itu saya harap pihak yayasan memberikan teguran keras kepada guru dan kepala sekolah,” ujar Vera kepada wartawan.

Menurut Vera, anaknya tidak pernah mengalami persoalan serupa selama bersekolah di tingkat sebelumnya. Ia berharap ada perhatian serius terhadap kondisi fisik maupun psikologis siswa.

“Saya hanya ingin ada evaluasi supaya kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” katanya.

Vera juga meminta yayasan mengambil langkah tegas terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Menengah Wilayah I, Kristi Aria Pratama, menilai tenaga pendidik harus lebih memperhatikan kondisi kesehatan siswa sebelum mengikuti aktivitas olahraga.

“Kalau memang siswa dalam kondisi sakit, tentu harus menjadi perhatian. Apalagi jika aktivitasnya cukup berat seperti sprint,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keselamatan siswa harus menjadi prioritas utama dalam kegiatan belajar maupun olahraga di sekolah.

“Minimal kondisi siswa ditanyakan terlebih dahulu sebelum mengikuti kegiatan,” tambahnya.

Kristi mengaku, tidak bisa mengambil keputusan evalusasi maupun lainnya atau lebih dari kasus tersebut, yang lebih berwenang adalah yayasan. “Kami dari Dinas Pendidikan hadir untuk memediasi, kami harap hasilnya secepatnya dilakukan, agar permasalahan cepat selesai,” ujarnya.

Mewakili yayasan, Direktur Sekolah Yayasan Pendidikan Kristen Gamaliel Palu, Deby Sunaris, menyatakan pihaknya akan menindaklanjuti hasil mediasi dan melakukan evaluasi internal.

“Evaluasi menyeluruh menjadi langkah awal yang akan kami lakukan, termasuk terkait profesionalisme tenaga kependidikan,” ujarnya.

Deby menambahkan, pihak yayasan akan mengambil langkah sesuai aturan yang berlaku apabila ditemukan adanya pelanggaran dalam proses pembelajaran maupun pembinaan siswa di sekolah. (**)