Dies Natalis ke-III, Rendy Lamadjido: Unazlam Lahir dari Perjuangan Panjang Pendidikan

ELSINDO, PALU – Universitas Abdul Azis Lamadjido menggelar syukuran dan doa bersama dalam rangka Dies Natalis (Anniversary) ke-III, Minggu (12/4/2026). Momentum ini menjadi ajang refleksi perjalanan kampus sekaligus penguatan komitmen dalam membangun pendidikan berkualitas di Sulawesi Tengah.

Ketua Yayasan Universitas Abdul Azis Lamadjido, Ir. Rendy M. Affandy Lamadjido, dalam sambutannya mengajak seluruh civitas akademika untuk mensyukuri perjalanan kampus yang kini telah memasuki tahun ketiga.

“Pertama-tama mari kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT. Atas rahmat dan hidayah-Nya, kita bisa kembali memperingati hari kelahiran universitas ini,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Rendy mengenang perjuangan almarhum H. Abdul Azis Lamadjido yang menjadi inspirasi berdirinya lembaga pendidikan di daerah. Ia menyebut, pada masa lalu keterbatasan akses pendidikan membuat putra-putri daerah sulit menempati posisi strategis.

“Dulu tidak banyak anak daerah yang bisa duduk di jabatan penting karena keterbatasan pendidikan. Bahkan untuk SMA saja harus keluar daerah,” ungkapnya.

Berangkat dari kondisi itu, lahirlah berbagai lembaga pendidikan yang kemudian berkembang hingga menjadi Universitas Abdul Azis Lamadjido. Ia menegaskan, kampus ini merupakan kelanjutan dari semangat panjang dalam memajukan pendidikan di Sulawesi Tengah.

“Pesan orang tua kami sangat jelas, lebih baik tidak punya uang daripada tidak punya ilmu. Itu yang menjadi prinsip kami hingga hari ini,” katanya.

Rendy juga mengungkapkan bahwa dalam waktu relatif singkat, universitas ini telah berkembang pesat. Saat ini, kampus telah memiliki tujuh fakultas dengan belasan program studi, serta didukung puluhan tenaga pengajar, termasuk profesor dari berbagai bidang.

“Alhamdulillah, dalam tiga tahun ini kita sudah memiliki tujuh fakultas dan terus berkembang. Ini tentu berkat kerja sama semua pihak,” jelasnya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa membangun universitas bukanlah hal mudah dan membutuhkan proses panjang serta kolaborasi semua elemen.

“Membangun universitas tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan ide, pemikiran, dan kebersamaan. Jangan ada konflik internal, semua harus diselesaikan dengan dialog,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya pengabdian dalam profesi dosen. Menurutnya, menjadi pendidik harus dilandasi keikhlasan, bukan semata-mata orientasi materi.

“Kalau kita sudah memilih menjadi dosen, maka jiwa kita adalah pengabdian. Rezeki itu datang dari Allah, bukan semata dari pekerjaan,” tuturnya.

Selain itu, Universitas Abdul Azis Lamadjido disebut memiliki komitmen kuat pada aspek sosial. Sekitar 80 persen mahasiswa di kampus tersebut mendapatkan dukungan beasiswa.

“Kami bukan berorientasi pada keuntungan, tetapi pada sosial. Banyak mahasiswa kami yang dibantu melalui beasiswa,” katanya.

Dalam bidang akademik, universitas ini juga terus berinovasi. Mulai tahun akademik 2025 ke atas, mahasiswa akan dibekali kemampuan teknologi serta penguasaan bahasa internasional.

“Mahasiswa kami wajib menguasai komputer dan minimal satu dari tiga bahasa dunia, yaitu Bahasa Inggris, Mandarin, atau Arab,” ungkapnya.

Tak hanya itu, kampus juga menanamkan nilai religius dan toleransi antarumat beragama. Rendy menegaskan bahwa Universitas Abdul Azis Lamadjido merupakan kampus nasionalis yang terbuka bagi semua kalangan.

“Kami ingin setiap mahasiswa menjadi pribadi yang kuat dalam keyakinannya masing-masing. Kampus ini terbuka untuk semua agama dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan,” jelasnya.

Mengakhiri sambutannya, Rendy mengajak seluruh civitas akademika untuk terus bergerak maju dan tidak berhenti berinovasi demi mewujudkan universitas unggul di Sulawesi.

“Kita tidak boleh diam di tempat. Mau ke kiri atau ke kanan, yang penting kita terus maju bersama membangun universitas ini menjadi lebih baik,” pungkasnya. (del)