ELSINDO, PALU- Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menegaskan komitmen pemerintah dalam menangani korban gempa bumi di Kabupaten Sigi dan Kabupaten Parigi Moutong tetap berjalan meski masa tanggap darurat telah berakhir. Menurutnya, perubahan status menjadi masa transisi pemulihan tidak boleh mengurangi perhatian pemerintah terhadap masyarakat terdampak.
Penegasan itu disampaikan Gubernur saat memimpin Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Gempa Bumi di Ruang Polibu, Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, Kamis (2/7/2026). Rapat membahas evaluasi penanganan pascagempa 16 Juni 2026, percepatan pendataan kerusakan, hingga strategi rehabilitasi dan rekonstruksi.
“Penanganan korban bencana harus terus berjalan apa pun statusnya. Mau tanggap darurat, transisi, atau status lainnya, itu hanya istilah administratif. Yang terpenting, pelayanan kepada masyarakat tidak boleh menurun,” tegas Anwar Hafid.
Ia menekankan bahwa pemerintah akan terus menjamin kebutuhan dasar masyarakat hingga seluruh korban benar-benar pulih. Karena itu, seluruh perangkat daerah diminta tetap bekerja maksimal selama masa transisi menuju pemulihan.
Gubernur juga mengingatkan pentingnya pendataan yang akurat sebagai dasar penyaluran bantuan dan pelaksanaan rehabilitasi. Validasi data kerusakan rumah serta kebutuhan warga dinilai menjadi kunci agar seluruh program pemulihan tepat sasaran.
“Persoalan utama kita adalah data. Saya ingin memastikan seluruh data kerusakan rumah dan dampak yang dialami masyarakat sudah lengkap dan valid. Tahap pemulihan sangat bergantung pada data yang akurat,” ujarnya.
Selain pendataan, Anwar Hafid meminta pembangunan hunian sementara (huntara) segera dipercepat, khususnya bagi warga yang rumahnya mengalami rusak berat. Huntara yang dibangun, kata dia, bukan lagi berupa tenda darurat, melainkan bangunan semi permanen yang layak ditempati hingga hunian tetap selesai dibangun.
“Tidak boleh ada pembangunan yang terhenti di tengah jalan. Sebelum hunian tetap selesai, masyarakat harus mendapat kepastian tempat tinggal yang layak,” katanya.
Berdasarkan data BNPB, gempa bumi yang mengguncang Sulawesi Tengah mengakibatkan 4.210 rumah terdampak, terdiri atas 4.012 unit di Kabupaten Sigi, 92 unit di Kabupaten Parigi Moutong, 18 unit di Kabupaten Poso, dan 88 unit di Kota Palu. Dari jumlah tersebut, 2.551 rumah mengalami rusak ringan, 1.195 rusak sedang, dan 266 rumah rusak berat.
Sementara itu, Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae, mengatakan pemerintah daerah telah memasuki masa transisi pemulihan tanpa menghentikan pekerjaan yang belum selesai selama masa tanggap darurat.
Ia mengungkapkan, gempa bumi menyebabkan tiga orang meninggal dunia di Kabupaten Sigi. Saat ini, pembangunan huntara bagi 266 keluarga yang rumahnya rusak berat menjadi prioritas utama.
Selain itu, akses jalan menuju wilayah Lembah Tongoa yang sebelumnya sempat terputus kini telah kembali dapat dilalui kendaraan. Pemerintah daerah juga terus memperbaiki distribusi air bersih di sejumlah wilayah terdampak.
“Kami memang sudah memasuki masa transisi, tetapi seluruh pekerjaan yang belum selesai tetap kami lanjutkan. Fokus kami adalah mempercepat pemulihan agar masyarakat bisa segera kembali beraktivitas normal,” ujar Rizal.
Rapat koordinasi tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Sigi Samuel Yansen Pongi, Wakil Bupati Parigi Moutong Abdul Sahid, Kepala BPBD Sulawesi Tengah Asbudianto, Kepala Stasiun BMKG, unsur Forkopimda, serta berbagai instansi yang terlibat dalam penanganan bencana di Sulawesi Tengah. (**)














