Kunjungan Di Sulteng, Mentan Amran Gelar Orasi Ilmiah di Untad Hingga Salurkan Banpang ke Masyarakat

Usai melaksanakan orasi ilmiah di Universitas Tadulako, Menteri Pertanian (Mentan) dan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, bersama jajaran melakukan kick off penyaluran bantuan pangan (banpang) di Sulteng untuk alokasi Juli, Agustus, September 2026 di Kelurahan Tondo, Kota Palu, Kamis (20/8/2026). FOTO : Istimewa.

ELSINDO PALU – Menteri Pertanian (Mentan) dan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, melakukan sejumlah agenda kerja saat lawatan kerja ke Sulawesi Tengah, Kamis (20/8/2026).

‎Dalam agenda itu, Mentan membawa sejumlah dirjen, Dirut Bulog – Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani, dan Dirut Pupuk Indonesia – Rahmat Pribadi.

‎Saat tiba pertama di Palu, Mentan berkesempatan melakukan orasi ilmiah di Wisuda Universitas Tadulako (Untad). Usai itu, Mentan Amran Sulaiman melakukan kick off penyaluran bantuan pangan (banpang) di Sulteng untuk alokasi Juli, Agustus, September 2026 di Kelurahan Tondo, Kota Palu.

“Kita meninjau program pengembangan perkebunan nasional sesuai arahan bapak Presiden, kedua memberikan sembako (banpang) kepada masyarakat, ketiga memberikan kuliah umum di Tadulako,” katanya kepada awak media.

Dalam orasi ilmiahnya di hadapan ribuan lulusan Untad, Amran meminta para lulusan berani melihat potensi sumber daya alam dan peluang ekonomi yang dimiliki Indonesia sebagai ruang untuk membangun usaha.

“Anak-anakku, anda ini alumni. Enggak usah mencari kerja, ciptakan pekerjaan, ciptakan peluang. Pasti bisa. Indonesia ini subur,” kata Amran.

Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya alam dan peluang ekonomi yang besar. Namun, potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia.

“Orang lain saja datang ke Indonesia, numpang, kaya raya. Heran tuan rumahnya miskin,” ujarnya.

Mentan Amran juga meminta para lulusan mengubah pola pikir jika ingin meraih kesuksesan. Menurutnya, keberhasilan tidak dapat dicapai tanpa melewati proses panjang, termasuk menghadapi kegagalan.

“Kalau mau sukses, siapkan gagal lima tahun sampai 10 tahun. Harus gagal. Pondasi sukses adalah gagal dan menderita,” tuturnya.

Amran mengkritik mentalitas yang menginginkan keberhasilan secara instan tanpa melalui proses. Menurutnya, pengalaman menghadapi kegagalan justru dapat menjadi bekal penting yang tidak selalu diperoleh di bangku kuliah.

Ia juga meminta para dosen Untad memberikan lebih banyak tantangan kepada mahasiswa agar mereka terbiasa menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan.

“Pak Rektor dan para dosen, tambah PR-nya. Kalau boleh, satu kali ketemu beri PR 10, minimal lima,” jelasnya.

Amran menekankan gelar akademik bukan akhir dari proses belajar, melainkan awal bagi para lulusan untuk berkarya dan memberikan kontribusi. (**)