ELSINDO, SIGI– Festival Literasi Kabupaten Sigi Tahun 2026 menjadi momentum untuk mendorong peningkatan minat baca sekaligus memperluas akses informasi layak anak di berbagai ruang publik.
Bunda Literasi Kabupaten Sigi, Siti Halwiyah, mengatakan penguatan budaya literasi tidak cukup hanya mengandalkan perpustakaan. Menurutnya, akses terhadap bahan bacaan perlu dihadirkan lebih dekat dengan anak-anak melalui pojok baca di desa, sekolah hingga fasilitas pelayanan publik.
“Bukan hanya ke perpustakaan, tapi bagaimana informasi layak anak ini hadir di sudut-sudut, baik di desa maupun di sekolah,” kata Siti Halwiyah saat ditemui pada Pembukaan Festival Literasi Tahun 2026 di Gedung Ampera, Desa Mpanau, Kecamatan Sigi Biromaru, Kamis (20/8/2026).
Ia mengatakan, keberadaan perpustakaan di sekolah maupun desa perlu terus didorong. Selain itu, inovasi juga dibutuhkan agar kegiatan literasi dapat hadir lebih dekat dengan anak-anak, termasuk melalui kegiatan di lingkungan sekolah tingkat SD hingga SMP.
Siti menilai upaya tersebut membutuhkan keterlibatan lintas organisasi perangkat daerah (OPD). Kolaborasi menjadi penting agar gerakan literasi tidak berjalan sendiri-sendiri dan dapat mendukung terwujudnya Kabupaten Layak Anak.
“Kita harus kolaborasi, bersinergi dalam rangka bagaimana literasi ini dicintai oleh semua anak,” ujarnya.
Ia berharap Festival Literasi 2026 tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi mampu membangun kebiasaan membaca di tengah masyarakat, khususnya generasi muda.
Menurutnya, keberadaan pojok baca di setiap desa menjadi salah satu langkah konkret untuk mendekatkan buku dan informasi kepada anak-anak.
“Harapan saya bagaimana anak-anak kita, dengan kita semua desa ada pojok bacanya,” katanya.
Siti menambahkan, penguatan literasi juga berkaitan dengan pemenuhan indikator dalam upaya mewujudkan Kabupaten/Kota Layak Anak. Karena itu, ia mendorong agar pengembangan literasi diperkuat mulai dari kelembagaan hingga regulasi yang mendukung.(**)


















