Berita  

Dinkes Sulteng Buka Posko 24 Jam, Kerahkan Tim Medis ke Wilayah Terdampak Gempa di Sigi

Plt Kepala UPT P2KT Dinas Kesehatan Provinsi Sulteng, Amsal, S.Ag., SKM., M.KM. (FOTO: FADEL)

ELSINDO, PALU – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Tengah membuka posko kesehatan selama 24 jam untuk memastikan pelayanan medis bagi masyarakat terdampak gempa bumi yang mengguncang wilayah Palu dan sekitarnya. Selain membuka posko di tingkat provinsi, Dinkes Sulteng juga mengerahkan tim medis ke sejumlah daerah terdampak di Kabupaten Sigi.

Plt Kepala UPT P2KT Dinas Kesehatan Provinsi Sulteng, Amsal, S.Ag., SKM., M.KM, mengatakan dua tim kesehatan langsung diterjunkan ke wilayah BAMPRES, Kecamatan Palolo, dan Puskesmas Nokilalaki sesaat setelah gempa terjadi.

“Pada saat terjadi gempa kemarin, Dinas Kesehatan sudah menurunkan dua tim langsung ke lokasi terdampak. Kami juga dibantu Tim Bantuan Medis (TBM), Axis dari Untad dan Arteria dari Unisa, serta hari ini ada tim Sigana Health Poltekkes Kemenkes Palu, yang turun berdasarkan koordinasi kami,” kata Amsal.

Menurutnya, posko kesehatan di tingkat provinsi beroperasi selama 1×24 jam setiap hari untuk menerima koordinasi dan bantuan dari berbagai pihak. Sementara di daerah terdampak telah didirikan posko di sekitar Puskesmas Palolo, Bombares, dan Puskesmas Nokilalaki yang menjadi wilayah dengan dampak paling berat.

Amsal mengungkapkan, wilayah yang mengalami dampak paling parah berada di Desa Kamarora A dan Kamarora B, yang masuk wilayah kerja Puskesmas Nokilalaki dengan jumlah penduduk sekitar 5.993 jiwa. Sejumlah korban luka ringan hingga luka berat telah mendapatkan penanganan medis.

“Saat ini seluruh korban sudah tertangani. Yang masih sangat dibutuhkan masyarakat adalah tenda pengungsian, terutama di Desa Kamarora,” ujarnya.

Dinkes Sulteng juga mengaktifkan seluruh sub-klaster kesehatan, mulai dari surveilans, promosi kesehatan, pelayanan kesehatan, pengendalian penyakit, kesehatan lingkungan, gizi, kesehatan reproduksi, hingga kesehatan ibu dan anak. Bantuan makanan pendamping ASI (MP-ASI) juga telah disalurkan ke sejumlah wilayah terdampak.

Selain itu, pihaknya menghadapi tantangan dalam penanganan ibu hamil yang akan melahirkan di wilayah pegunungan sekitar Kamarora. Sulitnya akses membuat proses rujukan menjadi tidak mudah.

Di sisi lain, Dinkes Sulteng mengakui masih membutuhkan tambahan sejumlah obat dan perlengkapan medis untuk penanganan luka berat. Meski demikian, stok obat dasar masih tersedia di gudang farmasi.

“Kami sudah menyusun daftar kebutuhan sesuai arahan Ibu Wakil Gubernur. Bantuan dari luar sangat terbuka dan nantinya akan dikoordinasikan bersama BPBD sebagai penanggung jawab logistik,” jelasnya.

Untuk memperkuat pelayanan kesehatan di lapangan, Dinkes Sulteng juga mengaktifkan tenaga cadangan, termasuk dari Universitas Tadulako. Dua ambulans bersama dua tim medis yang dipimpin masing-masing seorang dokter telah diterjunkan ke lokasi bencana.

“Kami terus siaga 24 jam. Setiap bantuan yang datang dari luar akan dikoordinasikan melalui posko provinsi dan diarahkan ke wilayah yang membutuhkan, khususnya Puskesmas Nokilalaki yang menjadi daerah paling terdampak,” pungkas Amsal. (**)