Berita  

Festival Literasi Sulteng Jadi Momentum Perkuat SDM, IPLM Turun karena Instrumen Penilaian Baru

Screenshot

ELSINDO, PALU — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusaka) Provinsi Sulawesi Tengah terus mendorong peningkatan budaya literasi masyarakat melalui berbagai program dan kegiatan kreatif. Salah satunya melalui Festival Literasi yang digelar sebagai agenda tahunan dalam rangka memperingati Hari Kunjung Perpustakaan.

Kepala Dispusaka Provinsi Sulawesi Tengah, Siti Rachmi Amir Singi, S.Sos., M.Si, mengatakan festival tersebut menjadi ruang bagi pemerintah kabupaten dan kota untuk menunjukkan inovasi serta kreativitas dalam mengembangkan perpustakaan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

“Festival literasi ini kami laksanakan sebagai agenda tahunan dalam rangka Hari Kunjung Perpustakaan. Kami ingin semua dinas perpustakaan dan kearsipan di Sulawesi Tengah ikut dalam rangka pengembangan perpustakaan untuk pengembangan sumber daya manusia,” ujar Siti Rachmi.

Mengusung semangat “Berani Cerdas”, Festival Literasi diisi dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat dan pelajar. Di antaranya lomba bertutur tingkat sekolah dasar (SD), pameran, lomba video konten, hingga resensi buku.

Menurut Siti Rachmi, kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga mampu menumbuhkan inovasi dan kreativitas dari masing-masing kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah.

Di sisi lain, capaian Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Sulawesi Tengah menjadi perhatian. Berdasarkan hasil penilaian tahun 2025 yang diterbitkan pada 2026, IPLM Sulawesi Tengah berada di angka sekitar 30,54.

Angka tersebut mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang mencapai 70,65.

Siti Rachmi menjelaskan, penurunan tersebut tidak semata-mata menggambarkan kondisi literasi masyarakat yang memburuk. Salah satu faktor utamanya adalah adanya perubahan instrumen penilaian yang dikeluarkan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) di tengah proses penilaian.

“Di pertengahan penilaian itu Perpusnas mengeluarkan instrumen baru. Instrumen baru ini yang harus kami penuhi dalam waktu kurang lebih tiga bulan. Memang agak kesulitan di kami,” jelasnya.

Ia menyebut Perpusnas juga telah mengakui adanya persoalan dalam penerbitan instrumen baru tersebut karena perubahan dilakukan ketika proses penilaian sudah berjalan.

Dampaknya, penurunan IPLM tidak hanya terjadi di Sulawesi Tengah, tetapi juga dialami oleh seluruh provinsi di Indonesia.

Untuk tingkat nasional, nilai IPLM tertinggi berada di kisaran 50 dan diraih Jawa Timur. Sementara Sulawesi Tengah berada di kisaran 30,65.

Meski demikian, terdapat indikator yang menunjukkan perkembangan positif. Tingkat kegemaran membaca masyarakat Sulawesi Tengah disebut berada di atas rata-rata nasional, meskipun secara kategori masih tergolong rendah.

Untuk meningkatkan IPLM ke depan, Dispusaka Sulteng akan memperkuat sejumlah aspek, terutama pada sisi kinerja.

Siti Rachmi menjelaskan, penilaian IPLM mencakup dua aspek utama, yakni kepatuhan dan kinerja. Pada tahun ini, aspek kepatuhan memiliki bobot 30 persen, sementara peningkatan kinerja menjadi bagian yang lebih penting untuk diperkuat.

“Untuk kinerja, sumber daya manusianya harus disiapkan. Kemudian sarana dan prasarananya juga harus disiapkan,” katanya.

Selain itu, Dispusaka Sulteng juga mendorong semakin banyak perpustakaan sekolah untuk mendapatkan akreditasi. Hal tersebut dinilai penting dalam memperkuat kualitas layanan perpustakaan sekaligus mendukung peningkatan indeks pembangunan literasi masyarakat.

Siti Rachmi menjelaskan bahwa pengelolaan perpustakaan di wilayah pelosok merupakan kewenangan pemerintah kabupaten dan kota. Namun, Dispusaka Provinsi Sulteng tetap membuka ruang bantuan bagi desa yang membutuhkan dukungan bahan bacaan.

“Kami tidak menutup mata. Semua permintaan bantuan buku-buku untuk pembangunan perpustakaan desa kami siapkan,” ujarnya.

Menurutnya, desa yang membutuhkan bantuan cukup mengajukan proposal permintaan buku. Selanjutnya, Dispusaka Provinsi Sulawesi Tengah akan menyiapkan buku melalui program Baklon yang ada di perpustakaan provinsi.

Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk memastikan akses terhadap bahan bacaan tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan, tetapi juga dapat dirasakan masyarakat di desa dan wilayah pelosok.

Melalui Festival Literasi dan berbagai program penguatan perpustakaan tersebut, Dispusaka Sulteng berharap budaya membaca semakin tumbuh, kreativitas masyarakat berkembang, serta perpustakaan benar-benar menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan sumber daya manusia di Sulawesi Tengah. (**)