Gempa Bumi dan Ritual Adat: Antara Takdir Allah, Sunnatullah, dan Kehati-hatian dalam Menyimpulkan

Foto ilustrasi

Penulis: Dr. H. Junaidin, S.Ag.,Kepala Kanwil Kemenag Sulteng

Setiap kali terjadi gempa bumi di Sulawesi Tengah, sering muncul pendapat yang mengaitkannya dengan ritual adat tertentu, termasuk ritual Balia yang dikenal dalam tradisi masyarakat Kaili. Sebagian orang bahkan langsung menyimpulkan bahwa gempa terjadi karena ritual tersebut. Namun, dalam perspektif Islam, kesimpulan semacam itu perlu disikapi dengan hati-hati, karena menyangkut perkara yang hanya diketahui secara pasti oleh Allah SWT.

Al-Qur’an memang menjelaskan bahwa berbagai musibah dapat menjadi peringatan bagi manusia. Allah berfirman:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”

(QS. Ar-Rum: 41)

Para mufasir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang dampak dosa dan penyimpangan manusia yang dapat mengakibatkan berbagai bentuk kerusakan dalam kehidupan. Namun para ulama juga mengingatkan bahwa tidak setiap musibah dapat secara langsung dihubungkan dengan dosa tertentu atau pelaku tertentu tanpa dalil yang jelas.

Dalam hadis sahih, ketika terjadi gerhana matahari bertepatan dengan wafatnya putra Nabi Muhammad SAW, sebagian orang menganggap gerhana itu terjadi karena wafatnya putra beliau. Nabi justru meluruskan pemahaman tersebut dan menjelaskan bahwa gerhana merupakan tanda kekuasaan Allah, bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Dari peristiwa ini, para ulama mengambil pelajaran bahwa Islam melarang menghubungkan suatu fenomena alam dengan sebab tertentu tanpa dasar ilmu yang kuat.

Secara ilmiah, gempa bumi terjadi akibat pergerakan lempeng tektonik, aktivitas sesar, atau proses geologi lainnya. Sulawesi Tengah berada pada kawasan yang dilalui beberapa sesar aktif, termasuk Sesar Palu – Koro, yang secara geologis memang memiliki potensi gempa tinggi. Penjelasan ilmiah ini tidak bertentangan dengan aqidah Islam, karena hukum-hukum alam juga merupakan bagian dari sunnatullah (ketetapan Allah di alam semesta).

Dalam perspektif akidah, seorang Muslim dapat meyakini dua hal sekaligus:

1. Gempa bumi secara fisik terjadi karena sebab-sebab alam yang telah Allah tetapkan.

2. Setiap peristiwa yang terjadi juga berada dalam kehendak dan hikmah Allah SWT.

Karena itu, mengklaim secara pasti bahwa gempa terjadi akibat ritual tertentu memerlukan dalil wahyu yang tegas. Tanpa dalil tersebut, klaim itu hanya menjadi dugaan.

Di sisi lain, Islam tetap mengajarkan bahwa segala bentuk kesyirikan, kekafiran, dan kemaksiatan harus dihindari. Jika suatu praktik adat mengandung unsur meminta pertolongan kepada selain Allah, mempersembahkan sesaji kepada makhluk gaib, atau keyakinan yang bertentangan dengan tauhid, maka praktik tersebut wajib diluruskan berdasarkan dalil syariat. Akan tetapi, pelurusan akidah berbeda dengan menyatakan bahwa suatu gempa tertentu pasti disebabkan oleh ritual tersebut.

Bahkan jika seseorang ingin mencari sebab musibah dari sisi spiritual, maka ia harus bersikap adil. Kemaksiatan tidak hanya ada pada satu kelompok atau satu tradisi adat. Di berbagai tempat terdapat beragam bentuk kesyirikan, kemungkaran, korupsi, kezaliman, perjudian, perzinaan, penipuan, dan pelanggaran syariat lainnya. Oleh karena itu, tidak tepat jika semua kesalahan dibebankan kepada satu komunitas atau satu tradisi tertentu.

Para ulama menjelaskan bahwa ketika musibah datang, sikap yang lebih sesuai dengan tuntunan agama adalah melakukan muhasabah (introspeksi diri), memperbanyak taubat, memperkuat tauhid, meningkatkan amal saleh, dan memperbaiki kehidupan masyarakat secara menyeluruh, bukan sibuk menunjuk kelompok tertentu sebagai penyebab pasti suatu bencana.

Kesimpulannya, Islam mengajarkan dua sikap sekaligus: menolak segala bentuk kesyirikan dan kemaksiatan, serta menghindari tuduhan yang tidak memiliki dasar ilmu yang pasti. Gempa bumi dapat dipahami melalui ilmu geologi sebagai bagian dari sunnatullah, sementara hikmah dan maksud terdalam dari setiap musibah adalah urusan Allah SWT yang tidak boleh dipastikan berdasarkan prasangka semata. Seorang mukmin hendaknya menjadikan setiap bencana sebagai momentum untuk memperkuat iman, memperbaiki diri, dan memperbanyak doa kepada Allah Yang Maha Mengetahui segala rahasia alam semesta.

Wallahu a’lam bish – shawab.