ELSINDO, PALU — Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah mencatat adanya tren peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di sejumlah wilayah selama Maret 2026. Faktor cuaca yang tidak merata disebut menjadi salah satu pemicu naiknya kasus di beberapa daerah.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr. Moh. Ikbalu, mengatakan peningkatan kasus terjadi terutama di daerah dengan curah hujan tinggi.
“Di Sulawesi Tengah ini kondisi cuacanya tidak merata. Ada daerah yang curah hujannya tinggi, ada juga yang panas. Nah, daerah dengan curah hujan tinggi justru mengalami peningkatan kasus DBD,” ujarnya.
Berdasarkan data Dinkes Sulteng, total kasus DBD pada Maret 2026 mencapai 84 kasus, meningkat dibanding Februari yang tercatat sebanyak 65 kasus.
Menariknya, wilayah dengan kasus tertinggi bukan berada di Palu, melainkan Tojo Una-Una dengan 32 kasus. Sementara Kota Palu berada di posisi kedua dengan 27 kasus.
Selain itu, beberapa daerah lain juga mencatat kasus DBD, di antaranya, Morowali 8 kasus, Banggai Kepulauan 4 kasus, Donggala 1 kasus.
Sementara sejumlah daerah berhasil mencatat nol kasus DBD, seperti Banggai, Poso, Parigi Moutong, dan Banggai Laut.
Menurut dr. Ikbal, keberhasilan daerah tersebut tak lepas dari inovasi dan keterlibatan masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
“Banggai punya inovasi Jumantik Cilik. Anak-anak sekolah dilatih mengenali jentik DBD dan cara pengendaliannya. Sedangkan di Poso ada kegiatan PSN rutin setiap akhir pekan menggunakan dana desa,” jelasnya.
Ia menilai rendahnya kesadaran masyarakat masih menjadi tantangan utama dalam pengendalian DBD. Salah satunya terjadi di wilayah Morowali Utara yang sebelumnya sempat mengalami lonjakan kasus.
Saat melakukan peninjauan lapangan, pihaknya menemukan banyak warga menampung air hujan di drum tanpa dilakukan abatisasi atau pemberian larvasida.
“Kalau dihitung, jentiknya sangat banyak. Masyarakat belum memahami bahwa penampungan air harus dibersihkan atau diberi larvasida agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk,” katanya.
dr. Ikbal juga menegaskan bahwa fogging bukan solusi utama dalam penanganan DBD. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang salah kaprah dan menganggap fogging sebagai langkah paling efektif.
“Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa. Satu minggu kemudian, larva yang masih ada akan menjadi nyamuk dewasa lagi. Karena itu yang paling penting adalah PSN, membersihkan tempat berkembang biak nyamuk dan pemberian larvasida,” tegasnya.
Meski terjadi peningkatan kasus di beberapa wilayah, Dinkes memastikan hingga saat ini belum ada laporan kematian akibat DBD di Sulawesi Tengah.
“Belum ada kematian dan kami berharap tidak ada. Kalau sudah ada kematian, itu bisa masuk kategori kejadian luar biasa,” ujarnya.
Dinkes Sulteng pun mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di siang hari karena nyamuk penyebab DBD aktif menggigit pada waktu tersebut.
Masyarakat diminta menggunakan lotion anti nyamuk, rutin memeriksa tempat penampungan air, serta menjadi “jumantik mandiri” di rumah masing-masing.
“Periksa tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, seperti tatakan dispenser atau wadah penampungan air. Kalau ada jentik, segera dibuang atau diberi larvasida,” pungkasnya. (**)
















