ELSINDO, SIGI– Program cetak sawah baru di Kabupaten Sigi masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait ketersediaan air dan kondisi medan. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Sigi, Afit Lamakarate, mengungkapkan bahwa dari total luasan tahap pertama sebesar 135 hektare, baru sekitar 30 hektare yang benar-benar siap ditanami.
“Total luasan land clearing (LC) kita di tahap pertama mencapai 135 hektare, namun yang sudah menjadi sawah siap tanam baru sekitar 30 hektare,” ujar Afit dalam wawancara, Rabu, 6 Mei 2026.
Menurutnya, meskipun sebagian lahan telah selesai dikerjakan, baik melalui proses land clearing maupun land leveling, pemanfaatannya belum optimal. Hal ini disebabkan oleh belum tersedianya sumber air yang memadai.
“Permasalahan utama di wilayah lembah itu air. Lahan sudah selesai, tapi kalau airnya tidak ada, tentu tidak bisa ditanami,” jelasnya.
Afit menambahkan, kondisi serupa juga terjadi di beberapa titik lainnya. Distribusi air yang tidak merata membuat sebagian lahan hanya mendapatkan suplai air di bagian bawah, sementara area lain masih kekurangan.
Ia menyebutkan bahwa tantangan dalam program cetak sawah baru memang tidak ringan. Selain persoalan air, medan yang cukup berat juga menjadi hambatan dalam proses pengerjaan.
“Secara ideal, pembangunan sawah harus didukung sumber air yang dekat. Tapi dalam program ini, banyak lokasi yang sumber airnya cukup jauh,” katanya.
Meski demikian, upaya untuk mengatasi persoalan tersebut terus dilakukan. Pemerintah daerah telah mengusulkan pembangunan jaringan irigasi melalui Kementerian Pertanian dan Balai Wilayah Sungai (BWS) yang dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum.
“Tahun ini ada sekitar 70 usulan yang sudah masuk dalam sistem, termasuk titik-titik cetak sawah baru yang belum memiliki sumber air. Nantinya akan dibangun saluran irigasi untuk mendukung pengairan,” ungkapnya.
Salah satu contoh lokasi yang telah mendapatkan intervensi adalah di wilayah Sidondo, meskipun pelaksanaannya belum sepenuhnya maksimal.
Lebih lanjut, Afit menyampaikan bahwa program cetak sawah akan terus berlanjut ke tahap berikutnya dengan skala yang lebih besar.
“Untuk tahap kedua, sudah dilakukan melalui tender dengan luasan mencapai lebih dari 800 hektare,” pungkasnya.(*)
















