Unazlam Palu Lantik Rektor Baru Periode 2026–2030, Yayasan Tekankan Komunikasi dan Kebersamaan

ELSINDO, PALU — Universitas Abdul Azis Lamadjido (Unazlam) Palu resmi memiliki kepemimpinan baru untuk periode 2026–2030. Pelantikan rektor dan jajaran pengurus baru menjadi momentum penting bagi kampus untuk melanjutkan pengembangan universitas sekaligus memperkuat kebersamaan seluruh civitas akademika.

Adapun pejabat yang dilantik dalam kepemimpinan baru Unazlam Palu periode 2026–2030 yakni Rektor Dr. Livawanti, S.P., M.P., Wakil Rektor/Vice Rector Dr. Muzakir Tawil, M.Si., Badan Pengawas Dr. Muhammad Darma Halwi, S.E., M.M., CRP., serta Anggota Badan Pengawas Saparman, S.E., M.Ak.

Pelantikan tersebut menjadi bagian dari upaya Unazlam untuk memperkuat tata kelola universitas, meningkatkan kualitas akademik, serta melanjutkan berbagai program pengembangan kampus hingga 2030.

Ketua Yayasan Universitas Abdul Azis Lamadjido (Unazlam) Palu, Ir. H. Rendy A. Lamadjido, M.BA, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pergantian kepemimpinan tersebut bukan sekadar pergantian jabatan, melainkan bagian dari kesinambungan program dan pengembangan universitas.

Ia menyebut, rektor sebelumnya selanjutnya mendapat tugas dalam tim pengawas dan evaluasi kinerja, sementara posisi rektor dipercayakan kepada Dr. Livawanti, S.P., M.P., yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Rektor I.

“Ini bukan pergantian, tetapi kesinambungan. Program-program yang sudah berjalan harus diteruskan dan dikembangkan,” ujar Rendy dalam sambutannya.

Rendy mengingatkan rektor baru agar memperkuat komunikasi dengan seluruh unsur kampus. Menurutnya, komunikasi menjadi salah satu kunci untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman sekaligus menjaga suasana akademik tetap harmonis.

Ia juga berpesan agar kepemimpinan baru mengedepankan ketenangan dan tidak mengambil keputusan secara emosional.

“Perbanyak komunikasi. Bersihkan hati dan jadilah pemimpin yang baik. Jangan melakukan tindakan-tindakan secara emosional yang dapat mengganggu tata kehidupan dan kesinambungan kita dalam membangun universitas,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Rendy juga menyampaikan target besar yang harus diwujudkan Unazlam dalam lima tahun ke depan.

Ia meminta kepemimpinan periode 2026–2030 mampu melahirkan sedikitnya dua program studi unggul baru.

Menurutnya, pengembangan program studi unggul menjadi bagian penting untuk mendorong Unazlam menuju akreditasi institusi unggul.

“Lima tahun ke depan harus lahir dua prodi unggul lagi,” tegasnya.

Ia mendorong sejumlah fakultas, termasuk Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Fakultas Hukum, Fakultas Teknik dan Pertambangan, serta Fakultas Kedokteran dan Kesehatan, untuk terus meningkatkan kualitas dan prestasi.

Rendy menekankan bahwa pencapaian tersebut hanya dapat dilakukan melalui kerja sama seluruh unsur kampus.

“Kita semua di sini bersaudara. Yang tua dan yang muda, prodi baru maupun prodi lama, semuanya sama-sama mengembangkan sayap untuk kemajuan Universitas Abdul Azis Lamadjido,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Unazlam Palu periode 2026–2030, Dr. Livawanti, S.P., M.P., menyebut pelantikan tersebut sebagai momentum penting sekaligus awal dari tanggung jawab besar yang harus dijalankan hingga 2030.

Ia mengibaratkan kepemimpinannya sebagai sebuah ujian yang berlangsung setiap hari.

“Mulai hari ini, ujian saya setiap hari sampai 2030. Pertanyaannya, apakah saya lulus ujian itu? Ujian itu tidak akan pernah berhenti,” ungkapnya.

Namun, ia menegaskan bahwa dirinya tidak akan menjalankan tanggung jawab tersebut seorang diri. Seluruh wakil rektor, dekan, wakil dekan, ketua program studi, dosen, tenaga kependidikan, dan civitas akademika akan menjadi bagian dari proses tersebut.

“Universitas adalah sebuah institusi. Saya tidak bisa menjalankan ujian itu sendiri. Kita semua bersama-sama mengikuti ujian itu berdasarkan tugas dan kewenangan masing-masing,” katanya.

Menurut Livawanti, pengelolaan perguruan tinggi memiliki dinamika yang kompleks. Karena itu, seluruh unsur kampus harus mampu bekerja bersama dan menerjemahkan visi universitas serta keinginan yayasan sesuai tugas masing-masing.

Ia juga menyoroti pentingnya komunikasi sebagai fondasi dalam menjalankan organisasi.

“Kalau tidak ada komunikasi, pasti akan ada yang terlewati. Dari situlah bisa muncul miskomunikasi dan miskesepahaman yang kemudian berdampak terhadap atmosfer dan dinamika kampus,” jelasnya.

Livawanti mengaku terbuka terhadap perbedaan pendapat dan bahkan menyukai diskusi maupun perdebatan selama bertujuan menemukan solusi terbaik.

“Kenapa kita berdebat? Karena debat itu akan menghasilkan hasil yang baik di akhirnya. Kita berdebat untuk mencari kebaikan. Pasti ada solusi,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh civitas akademika untuk saling melengkapi. Menurutnya, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing sehingga kekuatan tersebut harus dikolaborasikan untuk mencapai tujuan universitas.

“Saya adalah pekerja. Berikan saya pekerjaan, saya akan kerjakan sampai selesai. Tetapi kelemahan saya adalah melakukan lobi. Dari ratusan orang yang ada di universitas ini, pasti ada yang memiliki kelebihan itu. Maka mari saling melengkapi,” tuturnya.

Livawanti berharap seluruh jajaran Unazlam dapat membangun komunikasi yang kuat, saling membantu, serta bersama-sama mengembangkan universitas hingga 2030.

“Bantu kami, bantu wakil rektor, bantu para dekan, dan kita semua saling membantu untuk menyukseskan visi Universitas Abdul Azis Lamadjido menjadi lebih baik ke depan,” pungkasnya. (del)