Bullying Masih Mengintai Dunia Pendidikan, MAN 2 Palu Ajak Pelajar Bangun Kepercayaan Diri

ELSINDO, PALU — Perilaku bullying atau perundungan masih menjadi salah satu tantangan serius di lingkungan pendidikan. Tak hanya berdampak pada kenyamanan belajar, perundungan juga dapat memengaruhi kepercayaan diri dan motivasi korban dalam jangka panjang.

Persoalan tersebut menjadi sorotan dalam talkshow bertajuk “Peaceful without Bullying: Berani Peduli, Wujudkan Sekolah Nyaman dan Berprestasi” yang digelar dalam rangka Milad ke-51 dan Reuni Akbar Alumni MAN 2 Kota Palu, di Auditorium MAN 2 Kota Palu, Rabu (30/9/2026).

Guru Besar Universitas Tadulako (Untad), Prof. Dr. Muh. Khairil, yang menjadi salah satu narasumber, mengungkapkan bahwa perilaku perundungan kerap muncul dari perasaan seseorang yang menganggap dirinya lebih baik dibanding orang lain.

Menurut Khairil, perasaan tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari merasa lebih pintar, lebih kaya, hingga merasa lebih menarik secara fisik.

“Merasa lebih pintar, lebih kaya, lebih cantik atau ganteng, akhirnya merasa punya hak untuk menghakimi orang lain yang dianggap lebih lemah dari dirinya. Banyak pelaku bullying adalah orang yang merasa lebih baik dari orang lain,” ujar Khairil di hadapan ratusan pelajar dan guru dari berbagai lembaga pendidikan di Kota Palu.

Ia mengingatkan, perasaan lebih baik dari orang lain apabila tidak dikendalikan dapat berkembang menjadi kesombongan. Khairil kemudian mengaitkannya dengan kisah kesombongan Iblis yang digambarkan dalam Al-Qur’an ketika menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam AS karena merasa lebih baik.

“Hati-hati, perilaku merasa diri lebih baik potensi kesombongannya sangat besar, dan itu yang banyak menjerumuskan orang,” tegasnya.

Selain membahas karakter pelaku, Khairil juga menyoroti kondisi korban perundungan. Ia menyebut, banyak korban bullying merupakan mereka yang merasa lemah dan kurang memiliki kepercayaan diri.

Karena itu, ia mendorong para pelajar untuk memperkuat karakter dan membangun kepercayaan diri sebagai bekal dalam menjalin hubungan sosial.

“Yang harus dilakukan adalah bangun karakter diri. Karakter itu ada dua, intrapersonal dan antarpersonal. Perkuat diri kita, perkuat kepercayaan diri kita, kalau kita punya kepercayaan diri yang bagus, maka itu menjadi hal yang sangat mendasar untuk kita membangun relasi sosial,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sulawesi Tengah, H. Muh. Syamsu Nursi, mengatakan pihaknya terus melakukan berbagai upaya untuk mencegah dan menghilangkan praktik perundungan, khususnya di lingkungan madrasah.

Salah satu penguatan terbaru dilakukan melalui Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Dalam implementasinya, konsep Panca Cinta diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran di madrasah, termasuk penanaman nilai cinta kepada sesama.

“Melalui KBC ada lima aspek cinta yang diperkuat dalam setiap materi pembelajaran, sehingga persoalan bullying diharapkan tidak lagi terjadi,” kata Syamsu.

Syamsu juga mengingatkan para pelajar agar tidak menganggap remeh tindakan yang mengarah pada perundungan, termasuk kebiasaan mengejek dan mencela, baik secara langsung maupun melalui media sosial.

Menurutnya, tindakan yang dianggap sebagai candaan tersebut dapat memberikan dampak berkepanjangan bagi korban. Di antaranya korban merasa tidak nyaman berada di lingkungan sekolah atau madrasah, kesulitan berkonsentrasi, hingga kehilangan motivasi untuk belajar.

“Jangan dianggap sepele, seperti ada bahasa ‘cuma bercanda.’ Tidak ada dari kita yang senang perilaku kekerasan dalam bentuk apapun,” tandas Syamsu.

Talkshow tersebut juga menghadirkan perwakilan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Provinsi Sulawesi Tengah sebagai narasumber.

Melalui kegiatan tersebut, para pelajar dan pendidik diajak membangun lingkungan pendidikan yang lebih aman, saling menghargai, serta berani peduli terhadap praktik perundungan demi mewujudkan sekolah dan madrasah yang nyaman sekaligus mendukung prestasi peserta didik. (**)