ELSINDO, PALU- Pembangunan kembali Masjid Al-Ikhlas MAN 2 Kota Palu yang telah dimulai sejak 2025 kini terhenti sementara. Masjid yang telah berdiri sejak era PGAN tahun 1975 itu membutuhkan anggaran sekitar Rp2,7 miliar untuk menuntaskan pembangunan.
Kepala MAN 2 Kota Palu, Dr. H. Taufik, mengatakan pembangunan kembali masjid dilakukan karena kondisi bangunan yang telah berusia sekitar 50 tahun mengalami berbagai kerusakan.
Selain faktor usia, kapasitas masjid juga sudah tidak lagi mampu menampung jumlah siswa MAN 2 Palu yang mencapai sekitar 1.558 orang.
“Dengan jumlah siswa 1.558, daya tampung masjid tidak memungkinkan. Sampai tiga kali salat Zuhur dilaksanakan karena kapasitasnya tidak mencukupi,” ujar Taufik.
Kondisi tersebut semakin terasa karena MAN 2 Palu memiliki program boarding school. Para siswa asrama menggunakan masjid untuk melaksanakan salat lima waktu.
Melihat kebutuhan tersebut, pihak madrasah kemudian meletakkan batu pertama pembangunan masjid pada 2025. Pembangunan hingga kini dilakukan secara swadaya, terutama melalui dukungan orang tua siswa, guru, pegawai, alumni, serta sejumlah pihak lainnya.
Taufik mengungkapkan, setiap penerimaan rapor, pihak madrasah turut menyampaikan perkembangan pembangunan masjid kepada orang tua siswa. Dari kegiatan tersebut, terkumpul dana yang rata-rata mencapai sekitar Rp50 juta.
“Ini murni swadaya orang tua, guru-guru dan pegawai MAN 2. Dengan niat berani dan karena Allah, kami memulai pembangunan,” katanya.
Dari hasil swadaya tersebut, pembangunan telah menghasilkan sekitar 20 tiang. Namun, saat ini pekerjaan kembali dihentikan karena dana yang tersedia belum mencukupi untuk masuk ke tahap pembangunan badan utama masjid.
Menurut Taufik, pihaknya tidak ingin membongkar bangunan lama sebelum memiliki kepastian dana untuk melanjutkan pembangunan. Sebab, masjid tersebut tetap harus digunakan siswa dan masyarakat untuk beribadah.
“Kami berani membongkar badan masjid kalau ada dana sekitar Rp500 juta. Karena kalau dibongkar, harus langsung dibangun dan minimal bisa dibuat atap darurat sehingga tetap bisa digunakan,” jelasnya.
Secara keseluruhan, pembangunan masjid diperkirakan masih membutuhkan sekitar Rp2,5 miliar hingga Rp2,7 miliar.
Taufik berharap pembangunan Masjid Al-Ikhlas mendapat perhatian lebih luas, baik dari pemerintah maupun pihak swasta.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah, paling tidak Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, Wali Kota Palu, anggota dewan, maupun pengusaha di Kota Palu,” harapnya.
Ia menilai Masjid Al-Ikhlas memiliki fungsi strategis karena tidak hanya menjadi tempat ibadah warga madrasah, tetapi juga digunakan masyarakat umum.
Sejak era PGAN, masjid tersebut telah terbuka bagi masyarakat. Selain salat lima waktu, Masjid Al-Ikhlas juga digunakan untuk salat Jumat, tarawih, hingga salat Idulfitri.
“Ini satu-satunya masjid di Jalan Husni Thamrin yang menjadi benteng pertahanan masyarakat untuk beribadah. Jadi fungsinya bukan hanya untuk sekolah, tetapi juga untuk masyarakat,” ungkapnya.
Terbuka untuk Masyarakat dan Alumni
Bendahara Pembangunan Masjid MAN 2 Kota Palu yang juga Wakil Kepala MAN 2 Palu Bidang Kesiswaan, Muhammad Rendy Saputra, M.Pd., mengatakan pihak madrasah saat ini telah menyiapkan proposal untuk diajukan kepada sejumlah instansi dan pihak yang berpotensi memberikan dukungan.
Menurutnya, pembangunan selama ini benar-benar bertumpu pada gotong royong. Bahkan, para siswa turut berkontribusi melalui sumbangan sukarela.
“Ada siswa yang menyumbang seribu-dua ribu rupiah. Sedikit-sedikit akhirnya menjadi banyak. Walaupun tidak besar, tetapi ada nilai kepedulian anak-anak kami terhadap masjid,” kata Rendy.
Selain itu, pihak madrasah juga memanfaatkan media sosial untuk menggalang dukungan. Alumni dan masyarakat diajak ikut berpartisipasi melalui penyebaran flyer serta barcode donasi pembangunan masjid.
Pihak madrasah juga membuka kesempatan bagi masyarakat umum untuk memberikan bantuan. Spanduk informasi donasi telah dipasang di kawasan gerbang MAN 2 Palu.
Bantuan yang masuk pun tidak hanya dalam bentuk uang. Sejumlah kerabat guru turut memberikan bantuan berupa semen, pasir dan material bangunan lainnya.
Rendy menegaskan, pihak madrasah masih terbuka terhadap seluruh bentuk dukungan masyarakat.
“Walaupun ada yang memberikan sedikit, tetap kami terima. Karena ini untuk pembangunan masjid dan insyaallah menjadi amal bagi siapa saja yang ikut membantu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pembangunan saat ini sengaja dihentikan sementara karena tahap berikutnya sudah menyentuh badan masjid lama. Jika bangunan lama dibongkar, pihak madrasah harus memiliki dana yang cukup agar pembangunan dapat langsung dilanjutkan.
“Estimasi anggaran sekitar Rp2,7 miliar. Untuk sementara kami stuck dan berhenti dulu. Kalau masjid dibongkar, tentu harus siap langsung membangun, karena kami tidak ingin mengganggu tempat ibadah siswa dan masyarakat,” pungkasnya. (**)












