ELSINDO, PALU — Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2026 tingkat kabupaten/kota di Sulawesi Tengah (Sulteng) berlangsung semarak. Tak hanya menjadi ajang unjuk kemampuan peserta didik madrasah, kompetisi bidang sains ini juga membuka ruang bagi sekolah umum untuk ikut berkompetisi.
Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sulawesi Tengah melalui Bidang Pendidikan Madrasah terus mengawal pelaksanaan Computer Based Test (CBT) OMI 2026 yang digelar pada 7–8 September 2026.
Tahun ini, sebanyak 3.910 peserta mengikuti OMI 2026 tingkat kabupaten/kota yang tersebar di 88 titik lokasi pada 13 kabupaten dan 1 kota di Sulawesi Tengah. Menariknya, kompetisi tersebut turut diikuti 19 sekolah umum dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.
Keterlibatan sekolah umum menjadi warna tersendiri dalam pelaksanaan OMI 2026. Kompetisi yang sebelumnya identik dengan madrasah tersebut kini semakin menunjukkan perannya sebagai ruang bersama untuk mengasah kemampuan, mengembangkan talent, sekaligus mempertemukan peserta didik dari berbagai satuan pendidikan dalam kompetisi sains.
Pada hari kedua pelaksanaan, Selasa (8/9/2026), Kepala Kanwil Kemenag Sulteng Junaidin bersama Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Muh. Syamsu Nursi dan jajaran Kemenag Kabupaten Sigi turun langsung melakukan monitoring pelaksanaan CBT OMI 2026.
Salah satu lokasi yang dipantau adalah MI Alkhairaat Kotarindau, Kabupaten Sigi.
Monitoring dilakukan untuk memastikan seluruh tahapan kompetisi berjalan tertib dan sesuai prosedur. Tim juga memantau kesiapan peserta, sarana dan prasarana, perangkat komputer, hingga berbagai aspek teknis yang menunjang kelancaran pelaksanaan ujian berbasis komputer.
Di Kabupaten Sigi sendiri, OMI 2026 diikuti 340 peserta, yang terdiri atas 54 peserta jenjang MI, 154 peserta MTs, dan 132 peserta MA.
Dari hasil pemantauan, pelaksanaan CBT secara umum berjalan dengan baik. Terdapat satu peserta yang tidak dapat mengikuti kompetisi karena sakit.
Suasana kompetisi terlihat saat para peserta serius mengerjakan soal di depan perangkat komputer masing-masing. Konsentrasi dan ketelitian menjadi kunci untuk menyelesaikan soal dalam waktu yang telah ditentukan.
OMI 2026 bidang sains mempertandingkan sejumlah mata pelajaran terintegrasi sesuai jenjang pendidikan. Bidang yang dilombakan antara lain Matematika, IPAS, IPA, IPS, Biologi, Fisika, Kimia, Ekonomi, dan Geografi.
Tak hanya menguji kemampuan akademik, OMI 2026 juga menghadirkan bidang Ekoteologi: Integrasi Keislaman dan Keilmuan, Sustainable Development Goals (SDGs), serta Transformasi Digital untuk Pembangunan Nasional.
Ragam bidang tersebut menunjukkan bahwa kompetisi OMI tidak semata-mata mengejar kemampuan mengerjakan soal, tetapi juga mendorong peserta didik memahami keterkaitan ilmu pengetahuan dengan persoalan lingkungan, pembangunan berkelanjutan, nilai keislaman, serta perkembangan teknologi.
Kepala MI Alkhairaat Kotarindau, Uswa, mengatakan pihaknya telah melakukan persiapan sejak jauh hari untuk menghadapi OMI 2026.
Menurutnya, enam peserta didik dipersiapkan secara khusus dengan pendampingan guru, baik selama jam pembelajaran maupun melalui tambahan belajar.
“Dari jauh hari kami sudah menyiapkan diri menghadapi kegiatan tersebut. Enam peserta kami persiapkan dengan menunjuk guru khusus untuk membimbing, baik pada jam belajar maupun tambahan belajar,” ujarnya.
Persiapan tersebut diharapkan dapat memberikan hasil maksimal sekaligus membuka peluang bagi peserta didiknya untuk melangkah lebih jauh.
“Harapan kami ke depan, siswa kami bisa melaju ke OMI tingkat nasional,” katanya.
Pelaksanaan OMI 2026 di Sulawesi Tengah diharapkan tidak berhenti sebagai ajang mencari juara. Lebih dari itu, kompetisi ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya berprestasi, sportivitas, kepercayaan diri, dan semangat belajar di kalangan peserta didik.
Kehadiran 19 sekolah umum juga memperluas makna OMI sebagai ruang kolaborasi sekaligus kompetisi. Peserta didik dari madrasah dan sekolah umum dapat saling menguji kemampuan, memperoleh pengalaman kompetitif, serta berkembang bersama.
Dengan jumlah peserta mencapai 3.910 orang dan pelaksanaan yang tersebar di 88 titik, OMI 2026 tingkat kabupaten/kota menjadi salah satu panggung penting bagi lahirnya talenta-talenta muda Sulawesi Tengah di bidang sains.
Dari ruang-ruang CBT itulah, para peserta tidak hanya mengejar nilai terbaik, tetapi juga sedang membangun langkah menuju prestasi yang lebih tinggi—hingga ke tingkat nasional. (**)













