ELSINDO, PALU— Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) resmi dimulai di Sulawesi Tengah. Ajang kompetisi akademik sekaligus pengembangan potensi peserta didik madrasah ini menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa madrasah bukan hanya kuat dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga mampu bersaing dalam penguasaan sains, teknologi, dan berbagai kompetensi abad ke-21.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tengah, Dr. H. Junaidin, S.Ag., M.A, mengatakan OMI harus dipandang lebih dari sekadar arena untuk mencari siswa berprestasi.
Menurutnya, OMI merupakan panggung aktualisasi bagi peserta didik sekaligus ruang untuk memperlihatkan perkembangan kualitas madrasah di Sulawesi Tengah.
“OMI bukan sekadar kompetisi untuk menentukan siapa yang menjadi juara. Ini adalah ruang untuk menunjukkan bahwa madrasah mampu beradaptasi, berkompetisi dan berprestasi di tengah perkembangan pendidikan yang semakin dinamis,” kata Junaidin.
Ia menegaskan, pendidikan yang berakar pada nilai-nilai keagamaan tidak boleh dipersepsikan berjarak dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Justru keduanya harus berjalan beriringan dalam membentuk generasi yang memiliki kecerdasan intelektual, kematangan spiritual, karakter, sekaligus daya saing.
Menurut Junaidin, peserta OMI tidak hanya dituntut mampu menjawab persoalan akademik. Mereka juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, logis, kolaboratif, dan adaptif menghadapi tantangan zaman.
“Anak-anak madrasah harus memiliki kemampuan yang utuh. Tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga menguasai sains dan teknologi serta memiliki karakter yang baik,” ujarnya.
Junaidin menyebut pelaksanaan OMI menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pendidikan madrasah yang semakin kompetitif.
Madrasah, kata dia, kini tidak lagi dipandang hanya sebagai lembaga pendidikan yang berfokus pada pembelajaran agama. Madrasah telah berkembang menjadi institusi pendidikan yang mengintegrasikan nilai keislaman dengan sains, teknologi, karakter, kreativitas, serta kecakapan abad ke-21.
“Madrasah memiliki kontribusi besar dalam menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang unggul. Karena itu, kualitas madrasah harus terus kita dorong,” katanya.
Ia menambahkan, kompetisi seperti OMI juga menjadi cermin untuk melihat sejauh mana inovasi dan mutu pendidikan madrasah telah berkembang.
Bagi Junaidin, prestasi tidak lahir secara instan. Di balik keberhasilan seorang siswa, terdapat proses pembinaan yang dilakukan secara konsisten oleh guru dan madrasah.
Karena itu, OMI diharapkan mampu membangun budaya kompetisi yang sehat sekaligus mendorong madrasah melakukan pembinaan peserta didik secara berkelanjutan.
Pelaksanaan OMI di Sulawesi Tengah juga menjadi penegasan bahwa potensi peserta didik madrasah tidak hanya berada di pusat-pusat pendidikan di Pulau Jawa maupun kota-kota besar.
Sulawesi Tengah memiliki generasi madrasah dengan potensi akademik, kreativitas, karakter dan semangat berprestasi yang layak mendapatkan ruang untuk berkembang.
“Anak-anak madrasah di Sulawesi Tengah memiliki potensi yang besar. Kita ingin memberikan ruang kepada mereka untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya,” tegas Junaidin.
Menurutnya, OMI sekaligus menjadi momentum memperkuat pemerataan kualitas pendidikan madrasah. Baik madrasah di perkotaan maupun daerah memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi.
Lebih jauh, ia berharap pengalaman mengikuti OMI tidak berhenti setelah kompetisi berakhir. Para siswa diharapkan membawa semangat berprestasi itu kembali ke madrasah dan terus mengembangkan kemampuan masing-masing.
Junaidin menekankan, esensi OMI tidak semata-mata terletak pada perolehan medali atau gelar juara.
Kompetisi merupakan bagian dari proses membangun keberanian, kedisiplinan, sportivitas dan mental berprestasi.
“Siswa belajar bahwa prestasi membutuhkan proses. Guru belajar bahwa pembinaan harus dilakukan secara berkelanjutan. Dan madrasah belajar bahwa kualitas harus terus diperjuangkan,” jelasnya.
Dari proses itulah, kata Junaidin, kepercayaan masyarakat terhadap madrasah akan semakin kuat.
OMI pada akhirnya menjadi bagian dari ikhtiar besar membangun tradisi keunggulan di lingkungan madrasah sekaligus memastikan pendidikan agama dan ilmu pengetahuan mampu melahirkan generasi yang utuh.
Dari Sulawesi Tengah, semangat itu digaungkan: madrasah tidak hanya hadir untuk mencerdaskan, tetapi juga menginspirasi dan berprestasi. Madrasah tidak hanya ingin maju di lingkungan sendiri, tetapi siap bermutu dan tampil mendunia.
Sebagaimana tagline yang diusung saat ini: “Madrasah Maju, Bermutu, Mendunia.” Dari madrasah, untuk Indonesia yang lebih unggul. (**)













