Opini  

Ketika Menonton Piala Dunia Lewat Radio

Oleh: N. Muhammadong

Piala Dunia 2018
hanya kudengar lewat RRI.
Aku tak melihat rumput stadion.
Pun tak ada wajah para pemain.
Yang kumiliki hanyalah
sebuah suara.
Suara itu mengantarkanku
ke duel Perancis dan Argentina.

Si reporter bercerita
tentang anak muda
19 tahun, Kylian Mbappe.
Katanya, bola baru saja lepas
dari pemain Argentina.
Dan Mbappe menggiringnya
dengan kencang.

Semakin lama,
suara sang komentator
semakin meninggi.
Mascherano mengejar.
Rojo datang menghadang.
Namun anak muda itu
tetap melesat laksana angin.
Tapi sayang, ia dijatuhkan
dikotak penalti.
Pluit berbunyi..
wasit pun menunjuk titik penalti.

Dari radio itu,
aku tak melihat siapapun.
Tapi entah mengapa,
aku tahu di mana
titik penalti itu ditunjuk.
Aku tahu, ke mana bola itu
bersarang ke gawang.
Dan aku tahu, ribuan penonton
sedang bersorak kegirangan.
Barulah kusadari, ternyata
bukan mataku yang menonton.
Tetapi telingaku.

Sungguh ajaib radio itu.
Melalui komentatornya,
aku dapat membayangkan
arah serangan.
Merasakan cepatnya laju bola.
Bahkan tanpa sadar
ikut bersorak
ketika gol tercipta.

Betapa ajaib komentator itu.
Ia dapat menyulap kata
menjadi lapangan.
Menyulap kalimat
menjadi tribun.
Menyulap suara penonton
menjadi gemuruh
yang mengguncang dada.

Tentu RRI itu,
hingga kini masih ada.
Gelombang suaranya pun
masih setia melintasi langit.
Tapi suara yang satu itu
telah pergi.
Tak ada lagi komentator
yang dulu mengajak
pendengar,
berlari bersama bola.